INFOMEDIAKOTA, PRABUMULIH — Kebocoran sumur Migas RJA 054 Pertamina Field Adera diketahui pada tanggal 12 maret 2024 akhirnya setelah sepekan lebih melakukan persiapan,observasi dan eksekusi yakni Selasa 19 Maret 2024 semburan Gas berhasil ditangani.
Kejadian ini sebelumnya membuat masyarakat di desa curup dan kelurahan payuputat sangat resah dan cemas khawatir akan suara kebisingan dan bau gas yang cukup pekat di malam hari akan terbakar dan meledak.
Rasa syukur atas keberhasilan penanganan semburan gas ini bukan hanya disampaikan GM Pertamina namun perasan serupa juga di ungkapkan oleh petani padi, nelayan, pemilik kebun karet, dan warga penambang pasir sungai yang sudah seminggu mengeluhkan kerugian baik materil maupun Fisikis atas kejadian insiden ini.
Menurut keterangan Persnya pada (19/3/24) nya GM Pertamina Djudjuwanto pada closing statemen nya menuliskan bahwa penyebab kejadian kebocoran Gas di sumur RJA 054 karena pencurian aksesoris kepala sumur (wellhead) oleh orang tak bertanggung jawab. “Dikarenakan hilangnya aksesoris atau pengaman sumur dengan indikasi pencurian,” tulis Djudju.
Djudju juga menuliskan untuk penanganan teknis kebocoran sumur, ‘harus melalui beberapa tahapan tahapan yang kami persiapkan adalah,
1. Kami melakukan diskusi untuk menentukan metode yang cepat dan tepat. Dilanjutkan
2. Melakukan penyusunan program kerja yang dilanjutkan dengan simulasi percobaan.
3. Dilanjutkan dengan finalisasi program kerja, kordinasi dengan tim regional 1 dan SHU.
4. Melaksanakan Drill evakuasi guna memastikan jalur dan proses evakuasi dapat, berjalan dengan baik sebagai antisipasi kesiapan terhadap situasi darurat.
5. Berikutnya melakukan persiapan lokasi dan peralatan eksekusi dan observasi sumur.
6. Setelah semua proses dipastikan aman, dilakukan proses penanganan teknis sumur RJA 54, Alhamdulillah Kebocoran dapat di tangani dan situasi terkendali,” ujarnya
Terpisah Awak media mencoba menelusuri Letak lokasi sumur yang memang cukup jauh dari pemukiman ini, saat evakuasi dan mobilisasi tim Pertamina harus mengunakan kapal ketek. Karena akses ini memang cukup efektif dibandingkan bila pertamina harus melalui jalan darat dari kelurahan payuputat yang hanya bisa di tempuh dengan jalan kaki sekitar 3 kilometer melalui kebun warga.

Kami mencoba mengali informasi dari beberapa narasumber tokoh masyarakat dan pengamat payuputat, menurut keterangan (As) yang dapat kami himpun kejadian pencurian aksesoris kepala sumur ternyata bukan baru kali ini saja terjadi,
Menurut As sebanyak 34 sumur migas yang berada di wilayah kelurahan payuputat hampir hilang seluruhnya akibat mengalami pencurian aksesoris dan aset aset lainnya.
“Jumlah sumur/wellhead di wilayah payuputat terdapat 34 sumur. Dan yang masih wellhead nya tinggal 2 sumur , sisanya sudah hilang semua,termasuk stasiun pengumpul (RJ.3), matrialnya tidak ada lagi, sementara di payuputat ada Banseknya (Bantuan Sekuriti –Red), “ungkapnya.
Kepada awak media AS juga mengungkapkan kejadian kebocoran ini merupakan puncak semburan telak bagi kinerja Pertamina dimana atas menguaknya misteri bahwa pencurian aksesoris kepala sumur sangat masiv terjadi di wilayah operasional migas khususnya di kelurahan Payuputat, menurutnya dengan kondisi Kepala sumur yang sudah hilang ini warga cukup traumatik jika terjadi lagi semburan Minyak atau Gas dari sumur yang katanya sudah tidak Aktif lagi.(20/3/24).
“Dan yang diragukan warga banyak sumur di dekat pemukiman yang TidaK ada lagi wellhead nya sebagai Safety dari tekanan gas atau minyak yang sewaktu waktu bisa saja menyemburkan isinya. Jadi warga sekarang ini merasa resah dan takut kalau terjadi seperti di RJA 54.Sementara kejadian tersebut sampai saat ini belum ada rasa tanggung jawab baik dari Pertamina EP maupun Dari HSE Field ADERA Pengabuan.” Ucapnya.
AS mengatakan Puluhan sumur yang di katakan Pertamina suspended (sudah tidak aktif). Lagi lagi menjadi pemicu sasaran empuk bagi para pelaku kejahatan pencurian, namun demikian misteri siapa dibalik tabir kejahatan ini belum juga terungkap.
“Banyak data yang menjadi catatan kami baik hilangnya aset SP mini RJA 54 maupun atas kejadian kebocoran semburan sumur migas 54 ini, Kita ketahui Pertamina itu objek vital nasional jadi untuk jasa pengamanan anggaran yang di keluarkan tentunya tidak sedikit, bahkan backup pengamanan yang cukup berlapis, mulai dari Security hingga di hilirnya lagi yaitu external masyarakat setempat yang di rekrut pertamina sebagai Bansek (Bantuan sekuriti) untuk menjaga aset agar keselamatan lingkungan sekitar operasional dipastikan aman, ada apa mengapa belum terungkap ,” terangnya.
Dia menambahkan atas kejadian ini kerugian bukan hanya oleh pihak pertamina tetapi oleh sosial lingkungan di sekitar operasional, sudah saatnya pihak Pertamina untuk mengevaluasi dan menginventarisir kembali aset milik negara,
“Kami dari kejadian ini kinerja Pertamina, menilai sudah seharusnya bukan hanya pada produksi hulu migas saja yang menjadi target tapi evaluasi pengamanan aset dari pencurian apalagi dugaan sabotase, disepanjang bulan januari hingga maret kerap terjadi, cepat bisa di terungkap, ” tandas As.
Dirinya pun berharap terkait dampak sosial lingkungan yang dirasakan atas kejadian Sumur RJA 54 sudah di laporkan oleh warga ke DLH kota pabramulih melalui Lurah,kelurahan Payuputat.
“Harapan kami kepada pihak Pertamina, kiranya lahan perkebunan yang di wilayah kejadian dapat segera di berikan konpensasi selama warga TDK bisa beraktivitas dan bagi tanam tumbuh yang rusak di berikan ganti rugi, serta utk pengamanan aset negara ini tolong di ganti atau di tambah jangan sampai maling teriak maling terbukti saat ini,”tutupnya.

