Site icon Info Media Kota

Terjaring Razia Operasi Patuh Musi 2025 di Prabumulih: Motor Mati Pajak Siap-Siap Dikandangkan

Infomediakota Prabumulih, Sumsel —
Suasana pagi yang biasanya ramai lancar di sejumlah ruas jalan Kota Prabumulih berubah mencekam bagi para pengendara kendaraan bermotor, Kamis (24/7). Razia besar-besaran digelar oleh Satuan Lalu Lintas Polres Prabumulih dalam rangka Operasi Patuh Musi 2025. Sejumlah pengendara tampak panik, mencoba putar balik atau mencari jalan alternatif. Namun, petugas sudah bersiaga di titik-titik strategis. Tidak ada celah bagi pelanggar kali ini.

Setiap pengendara yang melintas dihentikan. Polisi pertama-tama mengecek kelengkapan standar berkendara: helm, lampu menyala, dan pelat nomor. Namun pemeriksaan tidak berhenti di situ. SIM dan STNK diminta. Di sinilah banyak pengendara mulai terjebak. Tidak sedikit yang tidak membawa STNK, bahkan lebih banyak lagi yang STNK-nya kedaluwarsa alias pajak mati.

“Kalau tidak bisa tunjukkan STNK, motor langsung ditahan. Kalau STNK ada tapi pajak mati, tetap dikandangkan. Harus bayar denda tilang dan lunasi pajak dulu baru bisa ambil motornya,” tegas AKP Marlina, Kasat Lantas Polres Prabumulih, saat dikonfirmasi media ini

Menurut data internal Satlantas, sekitar 75% pemilik kendaraan bermotor di Prabumulih tercatat belum membayar pajak. Fakta ini mencengangkan. Bahkan dalam satu jam pertama razia digelar, puluhan sepeda motor langsung diamankan. Banyak dari pemiliknya berdalih lupa, belum sempat, hingga alasan ekonomi.

“Kalau memang belum mampu bayar pajak, ya jangan nekat bawa motor. Aturan tetap aturan. Kita lakukan ini bukan untuk menjebak, tapi untuk mendisiplinkan,” lanjut Marlina.

Salah satu pengendara yang terjaring, Andre (27), mengaku menyesal tidak menggunakan helm dan membawa STNK saat bepergian.

“Aku pikir deket-deket aja, cuma beli sarapan. Eh malah kena razia. Helm nggak bawa, STNK di rumah. Malah ternyata pajaknya udah mati dua tahun,” katanya sembari menunduk lesu.

Kini, Andre harus merogoh kocek cukup dalam. Ia dikenai tilang serta diminta melunasi pajak yang tertunggak sebelum bisa membawa pulang kembali motornya.

Operasi Patuh Musi bukan hanya penegakan hukum, tetapi juga cerminan rendahnya tingkat kesadaran berlalu lintas warga. Tidak mengenakan helm, berboncengan lebih dari dua orang, hingga melawan arus menjadi pemandangan umum yang kini mulai ditertibkan dengan pendekatan tegas.

Kasat Lantas Polres Prabumulih menegaskan bahwa tindakan ini bukan semata-mata untuk penindakan, namun bagian dari edukasi keselamatan.

“Kami juga imbau masyarakat untuk tidak bonceng tiga, tidak melawan arus, dan pastikan semua surat-surat lengkap. Ini bukan sekadar formalitas. Ini soal nyawa,” tegasnya.

Berdasarkan penelusuran kami, .terungkap banyak kendaraan di Prabumulih yang dibeli secara kredit atau melalui tangan kedua tanpa balik nama. Hal ini membuat pemilik baru enggan atau bahkan tidak bisa membayar pajak karena dokumen tidak lengkap. Ada pula yang mengaku kesulitan karena belum tersedia sistem pembayaran daring yang memadai atau kurangnya informasi.

Namun alasan-alasan ini tidak dapat menggugurkan kewajiban hukum. Petugas tetap menindak, meskipun beberapa pengendara mencoba bernegosiasi atau bahkan menyogok agar dilepaskan upaya yang juga langsung ditindak tegas oleh petugas di lapangan.

Razia ini akan terus digelar dengan jadwal acak. menggandeng Samsat untuk membuka layanan keliling di lokasi razia agar memudahkan pelunasan pajak di tempat. Merupakan salah satu upaya efektif agar pengendara bisa kembali beraktifitas.

Operasi ini menjadi cermin bahwa kepatuhan masyarakat dalam berlalu lintas masih jauh dari ideal. Meski begitu, upaya penertiban secara berkelanjutan adalah satu-satunya jalan untuk menanamkan disiplin dan keselamatan di jalan raya.

Exit mobile version