Infomediakota Indralaya – PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Ogan Ilir menggelar Apel Bulan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) 2026 sebagai penegasan komitmen menekan angka kecelakaan kerja hingga nol (zero accident).
Apel yang digelar di halaman kantor PLN UP3 Ogan Ilir, Senin (9/2/2026), diikuti jajaran manajemen, pegawai, mitra kerja, serta perwakilan Dinas Ketenagakerjaan dan Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Ogan Ilir. Kegiatan ini menjadi momentum memperkuat budaya keselamatan kerja di lingkungan operasional kelistrikan yang berisiko tinggi.
Manager PLN UP3 Ogan Ilir, Arif Azanny, menegaskan bahwa keselamatan kerja bukan sekadar pemenuhan aturan administratif, melainkan prinsip dasar yang harus melekat dalam setiap aktivitas kerja.
“Keselamatan bukan hanya soal regulasi. Ini soal nilai. Setiap pekerja berhak pulang dengan selamat,” kata Arif dalam amanatnya.
Menurutnya, sektor kelistrikan memiliki potensi bahaya yang tidak kecil, mulai dari risiko tersengat listrik, pekerjaan di ketinggian, hingga potensi kebakaran. Karena itu, disiplin terhadap standar K3 menjadi syarat mutlak untuk mencegah kecelakaan.
Sebagai bentuk keseriusan, manajemen bersama mitra kerja menandatangani komitmen bersama pencapaian zero accident. Penandatanganan tersebut menjadi simbol tanggung jawab kolektif seluruh elemen kerja dalam menerapkan prosedur keselamatan secara konsisten.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan sosialisasi penanggulangan kebakaran oleh Dinas Damkar Ogan Ilir. Materi difokuskan pada peningkatan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat, termasuk simulasi penanganan awal kebakaran di lingkungan kerja.
PLN menilai kolaborasi lintas sektor—mulai dari pemerintah daerah, instansi teknis, hingga mitra kerja menjadi kunci membangun ekosistem K3 yang profesional dan andal. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga keandalan pasokan listrik sekaligus melindungi keselamatan pekerja di lapangan.
Melalui peringatan Bulan K3 ini, PLN UP3 Ogan Ilir menargetkan budaya keselamatan tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi praktik kerja sehari-hari.










