INFOMEDIAKOTA PRABUMULIH, – Di tengah geliat pembangunan infrastruktur di Kota Prabumulih, sebagian warga Kelurahan Karang Raja, khususnya di RW 07 RT 03 Perumahan Bukit Arda, merasa di anak tirikan dengan kondisi jalan yang masih becek ketika hujan dan berdebu saat kemarau.
Bagaimana tidak di balik deru aktifitas mobil molen justru membangun jalan yang diketahui sudah di cor dan masih dalam kondisi cukup mulus, salah satunya yakni jalan Ngerawan yang masih satu RW di Lingkungan Perum Bukit Arda.
Dari penelusuran awak media, pada Minggu (13/7/25), Jalan Perangkap Harimau adalah salah satunya jalan penghubung yang sudah banyak terdapat rumah warga masih berbentuk tanah liat. benar adanya di beberapa titik, terutama di ujung blok dan akses menuju Mushola/Masjid di perbatasan Karang Raja–Majasari, jalan belum tersentuh pembangunan sama sekali.
“Di sini masih banyak jalan yang belum dibangun, masih tanah. Kalau hujan, kami kesulitan lewat. Licin, becek, dan sangat tidak nyaman,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya, sembari menunjuk jalan tanah yang menurun di sisi perumahan.
Namun yang membuat warga geram bukan hanya soal belum dibangunnya jalan itu. Mereka mempertanyakan keputusan pembangunan jalan di titik lain yang, menurut mereka, kondisinya masih cukup baik namun justru dicor ulang.
“Yang aneh, di bagian lain yang jalannya masih bagus malah dibeton lagi. Padahal yang di sini belum pernah dibangun sejak perumahan berdiri,” keluh warga lain.
Kondisi ini memunculkan persepsi bahwa pembangunan infrastruktur di wilayah mereka tidak dilakukan secara merata. Bahkan, muncul dugaan adanya ketimpangan kebijakan. Dimana kawasan yang sudah layak justru mendapatkan prioritas, sementara wilayah yang benar-benar membutuhkan perbaikan dibiarkan menunggu tanpa kepastian.
Klarifikasi RW, Fakta Lapangan dan Harapan Warga
Menanggapi keluhan tersebut, Ketua RW 07 Perum Bukit Arda Kelurahan Karang Raja, Arifan, saat di sambangi awak media tak menampik bahwa ada beberapa ruas jalan yang memang belum tersentuh pembangunan pemerintah.
“Kami sudah sampaikan juga bahwa beberapa jalan, termasuk jalan ke arah mushola dan Jalan Perangkap Harimau, memang belum dibangun. Tapi insyaallah dalam waktu dekat akan dibangun dengan dana DAU,” ujarnya kepada portal Media ini.
Lebih dalam di tanya terkait pengecoran di jalan yang menurut warga masih layak, Arifan mengungkapkan bahwa jalan tersebut sebenarnya merupakan hasil pengecoran lama oleh pihak pengembang perumahan dan bukan dari Dinas PUPR.
“Kondisinya sudah tipis dan sudah rusak saat itu pengembang perumahan al hijrah secara mendiri telah melalukan pengecoran dan pengerasan jalan menuju perumahan al hijrah yang belakang perum Arda Jadi kami arahkan ke pemborong untuk diperbaiki di sana,” katanya.
Ia juga mengakui bahwa idealnya, jika sudah pernah dicor, seharusnya peningkatan dilakukan dengan pengaspalan, bukan pengecoran ulang. Namun keputusan teknis tetap berada di tangan pihak pelaksana proyek dan PUPR.
“Sama hal nya dengan pengecoran di jalan Ngerawan informasinya pengecoran jalan itu di lakukan pengembang bukam oleh pemerintah dan kondisinya sangat tipis hanya sekitar 5 cm, karenanya kita arahkan pengecoran kembali di sana dan pihak PUPR dan pemborong juga menyetujui,” ungkap pak RW
Salah satu Warga jalan Ngerawan perum bukit Arda mengungkapkan bahwa kondisi jalan memang sudah mengalami longsor dan nyaris putus hal inilah yang menjadi urgensi mengapa jalan Ngerawan tersebut harus di cor.
“Kondisi di jalan kito ini longsor ambles nak putus jalan nyo anak anak banyak main di sini dan membahayakan keselamatan,”ungkapnya.
Meski ada penjelasan dari pihak RW, warga masih berharap agar pemerintah, khususnya Dinas PUPR Kota Prabumulih, turun langsung meninjau lokasi-lokasi yang belum tersentuh pembangunan. Karena bagi mereka, pembangunan bukan soal cepatnya jalan dicor, tapi soal rasa keadilan dan keterwakilan hak sebagai warga kota.
“Apa susahnya turun langsung ke lapangan? Biar tahu mana yang benar-benar perlu dibangun,” ucap seorang warga setempat.
Sore itu, ketika kami kembali menyusuri jalan tanah menuju mushola, beberapa warga memang sangat membutuhkan akses jalan yang cukup penting saat akan beribadah ke mushola. mereka tak tahu sedang berada di jalur yang diperebutkan dalam wacana pembangunan. Tapi langkah kecil mereka adalah pengingat: bahwa infrastruktur adalah soal akses, dan akses adalah soal keadilan.
Selain itu kondisi jalan yang cukup gelap menuju perumahan warga RT 3 ini tak menuntut kemewahan. Mereka hanya ingin jalan yang layak dan, lampu penerangan jalan yang bersinar sesuai pajak penerangan lampu jalan yang telah mereka bayar setiap bulannya,
Melalui awak media warga meminta Walikota Prabumulih dan DPRD dapat memberikan secercah harapan, bagi mereka bukan sekadar proyek tahunan melainkan pemerataan agar tak ada lagi yang merasa ditinggalkan.










