INFOMEDIAKOTA JAKARTA,– Jumat, 26 September 2025. Di sebuah ruang pertemuan elegan di pusat ibu kota, aroma kopi hitam berpadu dengan tawa ringan para perwira Pertamina Drilling. Hari itu bukan sekadar seremoni melainkan momentum reflektif atas perjalanan satu tahun proyek Integrated Drilling Engineering Supervisory and Services (IDESS), sebuah inisiatif yang sejak awal dirancang untuk mengubah wajah industri pengeboran migas nasional.
Suasana syukuran berlangsung hangat. Di antara kehadiran jajaran manajemen Pertamina, SKK Migas, dan Pertamina Hulu Rokan (PHR), tampak aura bangga namun rendah hati. Setiap ucapan selamat dan tepukan bahu seolah menjadi simbol keberhasilan kolektif sebuah perjuangan yang sunyi, di balik bisingnya suara rig yang tak pernah berhenti berputar di Rokan.
“Capaian ini bukan tentang angka,” ujar Simon Aloysius Mantiri, Direktur Utama Pertamina (Persero), membuka sambutannya dengan nada yang tenang tapi tegas. “Ini tentang komitmen, kerja keras, dan dedikasi seluruh insan Pertamina Drilling yang telah membuktikan bahwa anak bangsa mampu menjalankan proyek berskala global dengan standar keselamatan kelas dunia.” ujarnya.
Satu tahun bukan waktu yang panjang dalam ukuran industri migas. Namun, di tangan Pertamina Drilling Services Indonesia (PDSI) waktu tersebut dimanfaatkan secara efisien dan produktif. Sejak sumur pertama di Rokan dibor pada Mei 2024, hingga September 2025, tercatat 93 sumur berhasil diselesaikan dengan catatan keselamatan sempurna, lebih dari 2,7 juta jam kerja tanpa satu pun insiden LTI (Lost Time Injury).
Itu bukan sekadar angka statistik; di baliknya ada keringat, disiplin, dan ketepatan eksekusi ribuan tenaga kerja di lapangan.

Lahirnya IDESS. Menyatukan Teknologi dan Kolaborasi
Tak banyak yang tahu, proyek IDESS lahir dari tantangan besar. Wilayah Kerja Rokan, yang sebelumnya dikelola oleh Chevron dan kemudian diambil alih oleh Pertamina Hulu Rokan pada 2021, adalah ladang minyak paling produktif di Indonesia namun juga paling menantang secara teknis.
Ketika tanggung jawab pengeboran diserahkan kepada Pertamina Drilling, tuntutannya jelas: harus efisien, cepat, dan aman. Di sinilah konsep Integrated Drilling Engineering Supervisory and Services diperkenalkan.
Skema ini merupakan turunan dari pendekatan Integrated Project Management (IPM), namun disesuaikan dengan karakteristik operasional dalam negeri. IDESS menyatukan seluruh fungsi penting pengeboran: mulai dari desain rekayasa, pengawasan lapangan, penyediaan peralatan fit for purpose, hingga layanan pendukung logistik dan pemeliharaan.
Dengan kata lain, IDESS menjadikan setiap sumur sebagai proyek kolaboratif, bukan silo yang berjalan sendiri-sendiri.
“Model kerja ini tidak hanya mempercepat eksekusi, tetapi juga menekan biaya operasional tanpa mengorbankan aspek HSSE. Kami mengubah paradigma: dari penyedia jasa menjadi mitra strategis dalam eksekusi proyek migas nasional.”jelas Avep Disasmita, Direktur Utama Pertamina Drilling.
Transformasi ini menandai babak baru bagi Pertamina Drilling. Jika dulu perusahaan lebih dikenal sebagai operator rig semata, kini ia naik kelas menjadi integrator teknologi pengeboran nasional sejajar dengan perusahaan kelas dunia yang menerapkan model serupa di Timur Tengah dan Amerika Latin.
Di Balik 93 Sumur: Disiplin, Dedikasi, dan Nyali
Rokan adalah kawasan yang tak pernah tidur. Siang dan malam, derrick-derrick baja berdiri gagah menembus langit tanah Sumatera. Di sanalah ribuan pekerja migas mengabdi, sebagian besar anak bangsa, yang kini menjadi saksi sejarah baru dalam industri energi Indonesia.
“Kalau rig berhenti, produksi pun berhenti,” ujar Ridho, seorang drilling supervisor di lapangan Duri, sambil tersenyum tipis. “Tapi yang lebih berat dari panasnya flare adalah menjaga zero incident. Itu tanggung jawab yang kami bawa setiap kali naik ke menara rig.”
Sejak Mei 2024, IDESS telah mengoperasikan enam rig baru: empat unit berkapasitas 550 HP dan dua unit 750 HP. Dari rig-rig inilah sumur pertama berhasil dibor, disusul pengeboran sumur horizontal pertama pada Oktober 2024 tonggak penting yang menandai kemampuan teknis Pertamina Drilling dalam menaklukkan formasi geologi kompleks Rokan.
Keberhasilan ini bukan hanya hasil dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari disiplin kerja. Setiap perwira di lapangan memahami bahwa HSSE bukan sekadar prosedur, tapi budaya hidup. Mereka beroperasi dalam sistem pengawasan berlapis, dilengkapi real-time monitoring dan sistem data-driven decision making.
“Kami tidak hanya mengebor sumur, kami mengebor dengan presisi, kecepatan, dan tanggung jawab,” tambahnya.
Efisiensi dan Kemandirian Energi Dua Sisi dari Satu Koin
Keberhasilan IDESS memberikan dampak ganda. Di satu sisi, proyek ini mempercepat pencapaian target produksi Pertamina Hulu Rokan. Di sisi lain, ia menjadi simbol efisiensi nasional yang nyata.
Dalam satu tahun, efisiensi waktu pengeboran rata-rata meningkat lebih dari 15% dibandingkan tahun sebelumnya. Penghematan biaya operasional tercatat signifikan, tanpa mengurangi kualitas pekerjaan maupun aspek keselamatan.
“Efisiensi yang dicapai IDESS menjadi contoh nyata bahwa inovasi dalam model kerja bisa menghasilkan dampak ekonomi langsung. Kami ingin menjadikan model ini sebagai benchmark bagi proyek-proyek lain di seluruh wilayah operasi Pertamina.” kata Oki Muraza, Wakil Direktur Utama Pertamina.
Lebih jauh, keberhasilan ini menegaskan posisi Pertamina Group sebagai penggerak utama ketahanan energi nasional. Di tengah fluktuasi harga minyak dunia, kemampuan mengelola proyek besar dengan sumber daya domestik menjadi faktor strategis.
Simon Mantiri menegaskan, “Capaian IDESS sejalan dengan visi pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yaitu kemandirian energi, pangan, dan air. Energi yang kuat adalah fondasi bangsa yang berdaulat.” ucapnya.
Sinergi Lintas Entitas: Ketika Kolaborasi Menjadi Daya Saing
Pertamina Drilling tidak bekerja sendiri. Di belakang proyek IDESS, ada ekosistem besar yang terdiri dari Pertamina Hulu Rokan (PHR), SKK Migas, dan berbagai entitas bisnis di lingkungan Pertamina Group.
Kolaborasi lintas entitas ini menjadi kunci keberhasilan IDESS. Setiap entitas berperan sebagai satu kesatuan dari penyedia bahan bakar, peralatan, hingga tim teknik yang mengawasi jalannya operasi di lapangan.
“Dulu, setiap lini bekerja sendiri-sendiri. Sekarang, dengan IDESS, semuanya terhubung dalam satu sistem data, satu tujuan, dan satu semangat,”
Model kerja terintegrasi ini juga memperkuat daya saing nasional. Dengan teknologi dan tenaga kerja lokal yang mumpuni, Pertamina Drilling mampu menekan ketergantungan pada jasa pengeboran asing.
Deputi Eksploitasi SKK Migas, Taufan Marhaendrajana, mengakui kontribusi strategis ini. “Capaian 93 sumur dan 2,7 juta jam kerja aman adalah bukti kapasitas nasional yang nyata. Ini bukan lagi mimpi. Indonesia bisa berdiri sejajar dengan negara produsen minyak dunia,” tegasnya.

Di Balik Panggung, Cerita Para Pekerja Lapangan
Namun, keberhasilan besar tak pernah datang tanpa kisah kecil di belakangnya. Di Rokan, ribuan wajah anonim menjadi bagian dari sejarah ini. Ada operator rig yang bekerja di bawah terik matahari, teknisi muda yang berjaga di ruang kontrol, hingga petugas HSSE yang setiap hari memastikan setiap langkah aman dilakukan.
Salah satunya, Taufik petugas HSE field coordinator. Ia mengaku setiap kali melihat papan statistik “0 Incident” di area kerja, ada kebanggaan tersendiri.
“Itu bukan hanya angka. Itu artinya semua pulang dengan selamat,” katanya dengan mata berbinar.
Di lapangan, rasa kebersamaan menjadi kunci bertahan. Bagi mereka, IDESS bukan sekadar proyek, tapi keluarga besar. “Kami tidak hanya bekerja untuk Pertamina, kami bekerja untuk negeri, dan zero incident merupakan komitmen dalam setiap langkah, ” tutup Taufik.
Teknologi, Data, dan Masa Depan Pengeboran
Salah satu keunggulan IDESS adalah penerapan sistem digital yang masif. Setiap rig di bawah proyek ini dilengkapi dengan real-time drilling monitoring system, yang mengirimkan data langsung ke pusat kendali di Jakarta.
Dengan sistem ini, tim teknik dapat menganalisis performa pengeboran, memprediksi potensi risiko, dan mengambil keputusan cepat berbasis data.
Selain itu, Pertamina Drilling juga mulai memanfaatkan teknologi Machine Learning dan Predictive Maintenance untuk meningkatkan keandalan rig dan menekan non-productive time.
“Teknologi membuat kami tidak lagi bereaksi terhadap masalah, tetapi mengantisipasinya. Inilah arah baru industri migas data menjadi bahan bakar kedua setelah minyak itu sendiri.” jelas Avep Disasmita.
Visi ke Depan: Dari Rokan ke Dunia
Setahun IDESS hanyalah awal dari perjalanan panjang Pertamina Drilling. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa BUMN energi Indonesia memiliki kemampuan manajerial, teknis, dan inovatif untuk bersaing di tingkat global.
Avep menegaskan, “Kami ingin menjadikan IDESS sebagai blueprint untuk proyek-proyek lain, baik di dalam maupun luar negeri. Dengan modal kepercayaan, pengalaman, dan teknologi, kami siap menjadi national drilling champion.” tegasnya
Rencana jangka panjang Pertamina Drilling juga mencakup perluasan pasar jasa pengeboran domestik, peningkatan kapasitas rig, serta kolaborasi riset dan inovasi bersama universitas dan lembaga teknologi dalam negeri.
Ketahanan Energi Sebagai Amanah Bangsa
Lebih dari sekadar proyek bisnis, IDESS membawa makna strategis: menjaga ketahanan energi nasional.
Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian dari geopolitik Timur Tengah hingga transisi energi dunia kemampuan Indonesia mempertahankan produksi migas dalam negeri menjadi faktor vital bagi stabilitas ekonomi nasional.
“Ketahanan energi bukan hanya soal cadangan, tetapi soal kemampuan kita mengelola sumber daya dengan efisien dan berkelanjutan, Dan IDESS adalah salah satu bukti nyata bahwa Indonesia mampu.”ujar Simon Mantiri menutup sesi wawancara.
Sebuah Tahun, Sebuah Keyakinan
Sore itu, di ruang acara Jakarta, prosesi pemotongan tumpeng menjadi simbol sederhana dari perjalanan luar biasa. Lampu-lampu berpendar lembut, menyorot wajah-wajah yang menyimpan kebanggaan tenang.
Di layar besar, terpampang kalimat sederhana: “93 Sumur. 2,7 Juta Jam Kerja Aman. Satu Tujuan: Ketahanan Energi Nasional.”
Bagi Pertamina Drilling, ini bukan akhir. Ini permulaan dari tekad baru untuk terus mengebor bukan hanya sumur, tetapi juga keyakinan bahwa energi bangsa bisa berdiri di atas kaki sendiri. Karena di balik setiap rig yang berdiri tegak di tanah Rokan, ada semangat Indonesia yang tak pernah padam. (Aris/Ajp 2025)










