Sentuhan Pertamina dari Sampah Tak Berguna Menjadi Produk Berharga

Ramdoni bersama Anggota PDU Rindu Resik saat produksi Papan Plastik Residu Foto : Aris Handoko

Kesungguhan dalam menjalani usaha, menjadikan seorang pria asal Belitang Oku Timur dapat menciptakan karya dari sampah Residu tak berguna jadi produk bermutu. Hal ini tak lepas dari sentuhan PT. Pertamina Prabumulih field kembali menorehkan catatan sejarah kolaborasi bersama Pemerintah Daerah.

Infomediakota — Ramdoni pria kelahiran Purbalingga Jawa Tengah 43 tahun yang lalu, rupanya banyak menyimpan cerita setelah hijrah ke kota Prabumulih, dibalik perjuangannya yang cukup panjang menggeluti tumpukan sampah yang bagi sebagian masyarakat dipandang barang kotor tak berguna. Hal ini berbeda bagi Doni sapaan akrabnya, dengan niat yang kuat diiringi keuletan ketulusan serta rasa sabar dirinya yakin kedepan limbah sampah tak berguna akan melahirkan sebuah karya yang berharga.

Bacaan Lainnya

Awalnya perjalanan hidup nya setiap hari tak bosan Doni menggeluti mengolah dan memilah sampah berkeliling dengan memulung lalu mengumpulkan sedikit demi sedikit sampah botol plastik air mineral di TPA Kelurahan Sungai Medang untuk dijual saat itu penghasilan cukup untuk makan dan menopang perekonomian keluarga kecilnya.

Dari situ doni terus berfikir bagaimana efek dampak dari volume sampah yang besar di TPA Sungai Medang dapat menghasilkan sesuatu besar pula berguna bagi orang banyak. Bahkan Doni sampai berkelana mencari info sampai ke pulau jawa, dan bergabung di asosiasi menimba ilmu terkait sampah daur ulang.

“Jika pertama kali kita masuk ke TPA di sungai Medang Apa yang kita lihat pertama ? Pasti tumpukan kantong plastik yang warna warni yang menggunung, merupakan limbah tak berguna. Dipastikan sangat sulit kita melihat limbah besi dan kardus karena laku dijual, sudah barang tentu limbah kantong plastik, bungkus sampo, bungkus mie, dan roti merupakan sampah residu jadi beban berat permasalahan kedepannya nanti bagi TPA, karena sulit di urai oleh tanah,” ungkap Doni.

Dari situ Doni terus berfikir bagaimana efek dampak dari besarnya volume sampah di TPA Sungai Medang dapat menghasilkan sesuatu karya dan bernilai rupiah berguna bagi orang banyak. Ia pun membulatkan tekatnya untuk berkelana mencari informasi sampai ke pulau jawa, dan bergabung dengan asosiasi aktifis lingkungan khususnya untuk menimba ilmu terkait daur ulang sampah.

“Ya saya sampai ke pulau Jawa menimba ilmu khusunya untuk sampah anorganik lebih detailnya lagi sampah plastik karena sangat sulit diurai oleh tanah, dan kembali lagi ke Prabumulih di tahun 2013 sampai 2018 dengan membentuk kelompok mandiri,” kata Doni saat dibincangi awak media ini di PDU kelurahan Sungai Medang, pada jumat pagi 23/8/24.

Sebelumnya dilirik Pemerintah kota Prabumulih ada cerita yang berkesan dan menarik yang sulit terlupakan bagi Doni. Ia menceritakan perjalanan setelah berkelana menimba ilmu di pulau Jawa, sepulangnya ke Kota Nanas Doni mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkannya dengan mengajak para pemulung membentuk kelompok swadaya masyarakat yang diberi nama Restu Ibu.

Dari sini Doni mengarahkan puluhan pemulung yang tergabung dalam komunitas restu ibu untuk mengumpulkan dan mengangkut berton-ton limbah sampah plastik residu yang tak memiliki nilai ekonomis di TPA Sungai Medang untuk dibawa keluar di halaman rumahnya,

Jelas hal ini membuat UPTD Pemerintah kota Prabumulih curiga sekaligus khawatir apabila sampah residu akan dibuang masyarakat ke sembarang tempat yang akan menimbulkan polusi dan permasalahan baru di tengah masyarakat.

Melihat hal tersbut rasa penasaran tim dinas UPTD TPA Perkim dan DLH mengintai dan membuntuti pergerakan para pemulung, akan dibawa kemana sampah limbah residu ini, ternyata limbah sampah dikumpulkan untuk dipilah, diolah selanjutnya dijual ke kelompok komunitas restu Ibu yang diketuai Doni.

“Pemerintah curiga saat itu, dan setelah di intai ternyata sampah kantong plastik kami beli, disini pula pemerintah melihat bahwa kegiatan memilah dan mengolah sampah plastik, dari sanalah Dinas Lingkungan Hidup minta saya untuk membantu dalam pengolahan sampah di TPA, dan waktu itu tahun 2019 terbentuklah PDU (Pusat Daur Ulang) yang langsung diterbitkan SK oleh Walikota,” terang Doni.

Dirinya menceritakan, setelah terbentuknya PDU tim teknis DLH Prabumulih meminta Doni untuk kembali memaparkan program pengolahan limbah sampah residu atas persentasenya itu membuat DLH Prabumulih semakin tertarik tentang apa program yang disampaikan Doni.

Selanjutnya DLH berinisiatif bersama kelompok Restu ibu yang diketuai oleh Ramdoni, mengundang Pertamina Field Prabumulih mengajak duduk bersama sambil diskusi bagaimana caranya untuk pengolahan sampah di Prabumulih ini bisa baik lagi kedepan. Pada momen inilah akhirnya lahir program Rindu Resik singkatan dari Rumah Inovasi Daur Ulang Sampah Residu Anorganik.

Kendala yang Masih Dihadapi Namun, Rindu Resik Membawa Nilai Positif dari Penyerapan Tenaga Kerja dan Berkurangnya Volume Sampah

Untuk Kendala yang dihadapi selama Lima Tahun Berdiri salah satunya adalah kurangnya jumlah mesin cetak papan plastik residu, sementara lahan PDU yang semakin dipenuhi volume tumpukan sampah plastik karna itu doni berharap jika ada penambahan mesin cetak selain dapat mengurangi volume sampah produk yang pernah diproduksi seperti paving blok atap genting yang saat ini menjadi permintaan masyarakat.

“Dulu pernah coba-coba membuat paving blok, karena saat ini masih terfokus membuat papan untuk bahan furniture, jadi kita hentikan dulu lagian mesin cetaknya kan cuma satu, produksi papan kedepannya akan membuat atap genting atau bata dari bahan plastik ini. Tapi memang sekarang ini kita sedang fokus membuat furniture, mungkin nanti kedepannya apabila mesin cetaknya ditambah,” katanya.

Baca juga  Senyum Soni di Tengah Derita, Kisah Anak Yatim Piatu Penderita Ginjal yang Tak Kenal Mengeluh

Para anggotanya yang bekerja dapat menghasilkan uang bulanan yang cukup lumayan besar rata rata sekitar 3 juta perbulan bahkan pernah dua orang anggotanya bisa menghasilkan uang sebesar enam juta rupiah sebulan. Untuk harga papan plastik residu berkisar 100 ribu satu kepingnya, sedangkan untuk satu set kursi dan meja harganya tergantung variasi dan bentuk yang dibuat,

Karena menurut data yang ada dari 99 ton tersebut 56 persennya merupakan sampah anorganik dan sisanya sampah organik. Untuk suplai sampah ke PDU menurut Doni maksimal bisa mencapai 15 ton perhari duku kita menjemput sampah-sampah tersebut, tapi sekarang karena kita sudah banyak kegiatan jadi kita minta mereka yang mengantar, hal ini dapat membuka lapangan pekerjaan bagi warga sekitar Doni pun mengajak masyarakat jika ingin bergabung untuk bekerja.

“Untuk pendapatan cukup lumayan kalau ibu-ibu bisa mendapatkan penghasilan 60-100 ribu, sedangkan bapak-bapaknya bisa dapat 100 hingga dua ratus ribu per-hari, tergantung kinerja mereka, untuk pekerja bukan saja warga Sungai Medang, tetapi ada juga yang dari Kelurahan lain yang meminta kerjaan di PDU. “Ya siapa saja yang mau bergabung dan mau bekerja dengan kondisi yang ada, kami persilahkan,” katanya.

Kolaborasi Sentuhan Rindu Resik Pertamina dan Pemerintah membawa Restu Ibu kepuncak Karyanya.

Sejak mengelola dan bergabung PDU, perjuangan Doni masih terus berlanjut, saat itu pemerintah Kota Prabumulih melakukan kembali mendapat bantuan pembangunan satu gedung PDU sungai medang dari Dana Alokasi Khusus Kementrian LH RI

“Ya saat itu baru ada satu bangunan dari dana DAK dari Kemen LH dan baru ada satu mesin cacah plastik bantuan dari Pemkot Prabumulih. Dengan kondisi lokasi lahan disekitar gedung belum rata masih banyak pohon, semak belukar, dan sedikit rawa yang digenangi air.

Dengan kolaborasi Pertamina Prabumulih Field, dan PDU Pemerintah kota Prabumulih membuat Doni bersama puluhan anggotanya kian bersemangat, dirinya semakin proaktif dan kreatif karena dibarengi dukungan Walikota Prabumulih Ir H Ridho Yahya dengan terbitnya Perwako nomor 23 tahun 2019 tentang pengurangan penggunaan kantong plastik.

Intuisi atas kemauan keras dan tekad yang kuat buah kesabaran niat tulus Doni dalam mengelola sampah akhirnya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang menjawab doanya, dukungan penuh mengalir deras dari kolaborasi Pemerintah dan bantuan Pertamina Field Prabumulih kepada PDU dangan program Rindu Resiknya.

“Awal bantuan pertama dari Pertamina yaitu alat berat untuk perapian lokasi lahan sekitar gedung PDU yang masih semak belukar dengan kondisi tanah tidak rata banyak lubang bekas aliran anak sungai harus di timbun dan diratakan, hampir berbarengan setelah rampung perapian halaman lahan gedung pertamina secara total kembali membantu mesin untuk cuci plastik, atap selter dan mesin press pengering gibrik, ” Beber Doni lagi.

Semakin berkembangnya PDU yang kelola Doni, Pria hitam manis ini kembali mengusulkan pengelolaan sampah Residu bahwa plastik agar bisa diolah menjadi bahan baku berupa produk berupa papan plastik Residu bisa dibuat berbagai furniture berupa meja kursi lemari, dan lainnya,

Hal itupun kembali mendapat respon oleh Pertamina Prabumulih field dengan memberikan bantuan 1 unit mesin listrik untuk melelehkan sampah plastik residu bisa mencetak bahan papan furniture paving block, batu bata plastik, dan lalin lain.

“Alhamdulillah atas perhatian pemerintah dan bantuan penuh dari Pertamina Field Prabumulih kami sangat sangat bersyukur, masalah sampah residu yang menjadi beban berat TPA bisa dikurangi oleh mesin cetak sampah plastik residu, selain itu kami bisa membuat karya dari papan plastik residu berupa furniture meja kursi dan lemari.” tandas doni didampingi El Sadam dan serly tim Pertamina Prabumulih Field.

Meski belum kami ketahui berapa jumlah dana CSR yang dikucurkan setiap tahunnya oleh PHRZ 4 Prabumulih Field untuk masyarakat kota Prabumulih, namun program pemberdayaan masyarakat dari pertamina telah banyak menyentuh masyarakat di wilayah kerja Pertamina.

Pengembangan dan Pemberdayaan Produk Papan Residu hingga sekala ekspor

Suasana Jumat pagi itu semakin hangat di saat sinar matahari mulai menyentuh kulit kami dan tim PHR Zona 4 Prabumulih field el sadam, dan serly, yang tetap setia dengan senyum ramahnya menemani para Jurnalis saat bincang bincang santai sembari menghirup secangkir kopi, bersama mas Doni di lokasi PDU Sungai Medang.

Kursi dan meja tempat kami duduk berbincang ternyata papan residu yang hampir aku tak tahu, suasana sekitar lokasi PDU nampak puluhan tenaga kerja tengah beraktivitas dengan berbagai tugasnya masing masing.

Foto Tim PHRZ 4 Field Prabumulih bersama Ramdoni Saat di bincangi Awak Media

El Sadam kembali berbincang dengan kami para jurnalis terkait proses program di Rindu Resik yang saat ini menjadi percontohan. Menurutnya proses yang di lakukan Pertamina untuk Pengembangan Program pemberdayaan PDU Sungai Medang melalui beberapa tahapan Road Map dengan rentan waktu 5 tahun melaksanakan pendampingan.

Di tahun pertama Pertamina memastikan kesiapan SDM termasuk legalitas kelompok Rindu Resik, secara paralel membantu kesiapan infrastruktur yakni perapian lokasi bersamaan dengan itu bantuan salter, mesin cacah dan alat pengering agar sampah plastik bisa dijual dengan bahan setengah jadi.

“Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya program Rindu Resik ini, kami juga menggaet berkerjasama dengan akademisi akhirnya lahirlah ide atau inovasi untuk mengolah sampah Plastik Residu yang terus memenuhi beban sampah di TPA, yang tadinya pemulung tidak mau mengambil sampah plastik karena tidak mempunyai nilai jual, ” ungkapnya.

Baca juga  Senyum Soni di balik Sakit Ginjalnya: Kisah Ketegaran Anak Yatim Piatu yang Kini Dirawat Oleh RS AR Bunda Prabumulih

Lanjut Sadam mengatakan Pertamina tidak hanya memberikan bantuan mesin akan tetapi kelompok ini diberikan juga pelatihan dan edukasi cara menggunakan merawat dan mengoperasikan mesin sampai setelah bisa memproduksi pertamina fokus terus memikirkan bagaimana penjualan, Pertamina telah membeli berupa meja dan kursi digunakan di ruang rapat kantor, bukan itu saja produk ini dibeli pula oleh karyawan sebagai furniture teras tamu rumah jajaran top manajemen pertamina.

Bukan itu saja produk papan residu ini pada tahun 2023 telah di uji kelayakan oleh Universitas Gajah Mada yang menyatakan kekuatan dan ketahanan akan air laut dan panas api dengan suhu tertentu,

Selain papan residu untuk membuat produk furniture bermutu seperti meja kursi dan telah di pasarkan ke beberapa kota besar di Indonesia. Tahun 2024 ini kelompok Rindu Resik PDU telah mengembangkan produknya dengan menciptakan wadah cetakan getah karet, secara fungsinya yang kuat dan awet tentu ini sangat cocok jika digunakan oleh para petani.

“Untuk pengembangan karya, pertamina terus berupaya dengan mengandeng tim ahli yang bertujuan agar produk furniture lebih cantik estetik dan menarik minat pembeli, seperti pembuatan produk lainnya seperti plakat terus dilakukan pelatihan, dengan kualitas lebih baik bisa bersaing di pasar nasional. Saat ini Pertamina terus mendorong sekitar 30 orang anggota kelompok PDU ini, untuk melihat finishing produknya, silahkan workshop di jalan lingkar,” terang Sadam.

Pertamina berharap replikasi untuk memperluas program ini, jangan sampai hanya PDU di sungai medang saja dan bisa diperluas hingga di kelurahan kelurahan lain, di kota Prabumulih,

PDU Rindu Resik dan sederet Prestasi

Penghargaan pada tingkat provinsi PDU Rindu Resik meraih kalpataru katagori perintis merupakan salah satu torehan prestasinya selain itu dalam upaya marketingnya Rindu Resik tak pernah absen mengikuti pameran di sekala Nasional,

Pada tahun 2022 pameran muda berkreasi yang digelar oleh Apeksi, Tim PDU Rindu Resik Prabumulih membawa Produk karyanya dengan menampilkan satu set meja dan kursi serta bahan baku papan residu di dampingi DLH dan secara langsung dihadiri Walikota Prabumulih Ridho Yahya.

Bahkan Gubernur Provinsi Sumatera Selatan Herman Deru juga sudah membeli satu set meja dan kursi untuk dipakai pribadi dan juga adalagi Menteri Perdagangan RI, Zulkifli Hasan juga membeli hasil karya dari Rindu Resik prestasi ini bukan hanya impian bagi PDU Doni dan anggotanya untuk mengharumkan nama kota prabumulih di kanca Nasional.

Multiplier Effect menghantarkan Pertamina Hulu Rokan Zona 4 Prabumulih Field Terima Penghargaan ISRA Award 2nd Tahun 2024

Berdirinya PDU kolaborasi pemerintah kota Prabumulih dan polesan sentuhan tangan dingin Pertamina membawa berkah yang mendalam bagi masyarakat dapat menciptakan lapangan kerja. Selain itu Program Padu Padan dan Rindu Resik,

Selain itu juga dari sudut kota Prabumulih dengan Program Padu Padan dan Rindu Resik, akhirnya PEP Prabumulih Field mendapat penghargaan yang sangat  membanggakan.

PT Pertamina EP Prabumulih Field meraih penghargaan platinum kategori economic empowerment (Pemberdayaan Ekonomi) dalam ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2nd tahun 2024 yang diselenggarakan di Grand Mercure Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah (27/06/24).

Bahkan, PEP Prabumulih Field menjadi satu-satunya perusahaan peraih platinum dari regional 1 dengan mengusung program Padu Padan (Pusat Daur Ulang Sampah Mandiri dan Berkelanjutan).

Perlu diketahui bahwa program Padu Padan merupakan program pengolahan sampah organik dan anorganik berbasis pemberdayaan masyarakat di Kota Prabumulih.

Berangkat dari latarbelakang lumpuhnya TPA induk Kota Prabumulih yang berdampak terhadap masalah lingkungan, sosial dan kesehatan, program Padu Padan berkontribusi signifikan dalam pengurangan sampah organik dan anorganik di Kota Prabumulih.

Program Padu Padan merupakan payung program yang menaungi dua program turunan di antaranya program Rindu Resik (Rumah Inovasi Daur Ulang Sampah Residu Anorganik) dan program Muda Bersama (Perempuan Berdaya, Bersama Kelola Sampah).

Selain itu program Rindu Resik fokus pada pengolahan sampah anorganik, sementara program Muda Bersama fokus pada pengolahan sampah organik dengan memberdayakan perempuan melalui kelompok wanita tani.

Dalam mengimplementasikan program Padu Padan, PEP Prabumulih Field bersinergi dengan stakeholder seperti media, pemerintah dan NGO untuk membangun kerjasama yang efektif dan berkelanjutan.

Senior Manager PEP Prabumulih Field, Muhammad Luthfi Ferdiansyah, mengungkapkan rasa syukur dan bangga atas penghargaan yang diraih oleh PEP Prabumulih Field pada ajang tersebut.

“Kami bersyukur dan bangga program Padu Padan berhasil mendapatkan penghargaan platinum di tingkat nasional untuk yang pertama kalinya. Semoga penghargaan ini bisa memacu motivasi kami untuk terus berkarya menciptakan program CSR yang sustainable dan tentunya bermanfaat bagi lingkungan di Wilayah Kerja Perusahaan.” ungkap Luthfi.

Kedepannya, masyarakat di Wilayah Kerja Perusahaan (WKP) PEP Prabumulih Field diharapkan dapat mendukung dan menyukseskan Program Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang sudah dirancang agar sinergi antara masyarakat, pemerintah, dan perusahaan terus terjalin dengan baik.

“Pada intinya, kemenangan ini juga berkat sinergitas antara perusahaan dengan stakeholder yang berkomitmen dalam memberdayakan masyarakat agar mandiri di bidang lingkungan, sosial, dan ekonomi,” pungkasnya.

Membuat Pertamina Prabumulih Field sabet penghargaan Satu satunya perusahaan peraih platinum dari regional 1 dengan mengusung program Padu Padan (Pusat Daur Ulang Sampah Mandiri dan Berkelanjutan).

Puncaknya Penghargaan Platinum kategori economic empowerment (Pemberdayaan Ekonomi) dalam ajang Indonesia Social Responsibility Award (ISRA) 2nd tahun 2024 di torehkan Pertamina Prabumulih Field diterima oleh Lutfi di Grand Mercure Solo Baru, Sukoharjo, Jawa Tengah. (27/06/24).

Penulis : Aris Handoko Pemred Infomediakota.com

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *