Infomediakota Prabumulih – Di sudut Kelurahan Karang Raja, pagi itu suara cangkul beradu dengan batu, sekop menggeser pasir, dan tawa kecil warga bersahutan memecah sunyi akhir pekan. Tak ada alat berat, tak ada papan proyek bertuliskan anggaran miliaran rupiah. Hanya tangan-tangan warga yang bekerja, memadatkan jalan berlumpur yang selama ini menjadi keluhan bersama.
Jalan sempit di samping Masjid Nur Ikhlas itu sebelumnya lebih mirip kubangan saat hujan turun. Licin, becek, dan menyulitkan siapa pun yang melintas, anak anak dan lansia harus melangkah hati-hati, sementara jamaah masjid kerap mengangkat celana agar tak kotor saat hendak solat.
Ironisnya, hingga kini jalan tersebut belum juga tersentuh anggaran belanja pemerintah yang mungkin menurut pemerintah belum prioritas untuk di anggarkan meski usulan proposal telah di layangan, akhirnya bagi warga RT 03 dan RT 04 RW 01 memilih tak menunggu dan berpangku tangan mengharapkan anggaran yang tak kunjung datang.
Minggu (15/2/2026), mereka berkumpul membawa alat seadanya. Ada yang menyumbang semen, ada yang mengantar pasir, ada pula yang sekadar menyumbang tenaga. Gotong royong menjadi jawabannya.
Bagi warga, perbaikan jalan itu bukan sekadar soal infrastruktur. Lebih dari itu, ini tentang kenyamanan beribadah, terutama menjelang Ramadan dan Idulfitri, ketika aktivitas di masjid meningkat tajam.
“Kalau hujan, becek sekali. Kasihan jamaah, apalagi orang tua. Menjelang Ramadan, kami ingin jalan ini sudah bagus supaya ibadah lebih nyaman,” ujar Ketua RW 01, Noeroso, sembari mengawasi pengecoran.
Dengan nada tulus, ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga dan para donatur yang telah membantu.
“Kami bersyukur sekali. Bantuan materil dan tenaga dari masyarakat membuat pekerjaan ini bisa terlaksana. Ini murni kebersamaan,” katanya.
Dana swadaya menjadi bahan bakar utama perbaikan tersebut. Setiap rupiah dikumpulkan dari kantong warga sendiri. Bahkan, salah satu anggota DPRD Kota Kota Prabumulih ikut menyisihkan rezekinya untuk membantu pembelian material.
Tak ada yang mengeluh meski peluh membasahi punggung. Bagi mereka, jalan yang lebih layak berarti langkah yang lebih ringan menuju rumah ibadah.
Di tengah hiruk-pikuk pembangunan kota dan janji-janji anggaran, apa yang dilakukan warga Karang Raja justru terasa sederhana sekaligus menggetarkan, ketika bantuan tak kunjung datang, solidaritaslah yang bergerak lebih dulu.
Gotong royong hari itu bukan hanya memperbaiki jalan. Ia merawat sesuatu yang lebih penting, rasa memiliki, kepedulian, dan keyakinan bahwa persoalan bersama bisa diselesaikan bersama.
Sebuah pelajaran sunyi dari jalan kecil lingkungan di samping masjid: bahwa kekuatan masyarakat kadang jauh lebih kokoh daripada beton mana pun.










