Titik Terang Prabumulih Menuju Kota Industri Nanas

INFOMEDIAKOTA Prabumulih, — 27 Agustus 2025 akan tercatat dalam sejarah. Kementerian Hukum RI secara resmi menetapkan Prabumulih sebagai Kota Nanas, sebuah identitas yang selama ini hanya menjadi jargon dan cerita dari mulut ke mulut. Kini, sebutan itu mendapat legitimasi hukum.

Bagi masyarakat yang lahir dan besar di Prabumulih, nanas bukan sekadar buah tropis, tetapi bagian dari memori kolektif. Generasi 1990-an masih mengingat suara khas para bibik ibung—pedagang keliling nanas—yang menjajakan dagangannya sambil memanggul ambung di punggung, dengan tali melilit kepala, berjalan beriringan membawa buah nanas segar. Gambaran itu masih terngiang hingga kini, bahkan meski zaman telah berubah.

Bacaan Lainnya

Jenis nanas yang tumbuh subur di tanah Prabumulih adalah varietas queen. Ciri khasnya: buah memanjang, rasa manis segar, sedikit asam, dengan daun berduri berwarna hijau kekuningan. Varietas ini tumbuh bukan hanya di Prabumulih, tetapi juga di wilayah sekitar seperti Muara Enim, PALI, dan Ogan Ilir. Namun, sejak hari ini kita sepakat menyebutnya dengan nama tunggal: Nanas Prabumulih.

Baca juga  Rayakan HUT RI ke-80, Ketua DPRD Deni Victoria Dampingi Wali Kota Beri Remisi sebagai Wujud Kepedulian dan Harapan Baru

Dengan penetapan resmi, nilai ekonomi buah ini diprediksi naik signifikan. Jika selama ini harga di kebun hanya Rp3.000 per buah, kini diharapkan dapat terdongkrak minimal Rp5.000. Dampaknya, di pasar tradisional harga bisa menembus Rp10.000, sementara di luar kota bahkan mencapai Rp15.000–Rp 25.000 per buah.

Bagi petani, kabar ini tentu kabar baik. Menanam nanas kini lebih bernilai dibandingkan komoditas lain. Kelestariannya pun akan lebih terjaga karena memiliki identitas dan harga yang dihargai.

Potensi hilirisasi nanas tidak main-main. Menurut riset, terdapat lebih dari 60 turunan produk yang bisa dihasilkan dari nanas: mulai dari minuman kesehatan, enzim bromelain untuk industri farmasi, cuka, hingga serat tekstil yang kini menjadi incaran pasar dunia.

“Kalau harga buah saja bisa naik, maka nilai tambah dari turunan produk jauh lebih tinggi. Ini saatnya nanas Prabumulih masuk ke peta industri global,” jelas Agus Ketua Koperasi Miwa Pineapple sekaligus Wakil Ketua Bidang UMKM Kadin.

Dari Buah ke Serat: Lompatan Sejarah di Prabumulih

Namun, nanas bukan hanya soal buah. Dua bulan lalu, Prabumulih mencatat sejarah lain. Daun nanas berhasil diolah menjadi serat mirip kapas oleh Koperasi Miwa Pineapple. Serat itu bahkan mampu mengambang di udara, menjadi simbol lahirnya era baru hilirisasi produk nanas.

Serat nanas kemudian dipintal menjadi benang, ditenun menjadi kain, dan dijahit menjadi pakaian. Produk perdana itu akan dikenakan secara resmi oleh pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kota Prabumulih dalam acara pengukuhan akhir September mendatang.

Baca juga  Darurat Narkoba, Satres Polres Prabumulih Amankan 21 Paket Sabu dari Tangan Lendra Pengedar Asal Desa Jambu Muara Enim

“Ini milestone UKM naik kelas. Dari buah nanas, kita bisa masuk ke industri tekstil, otomotif, hingga produk high-tech seperti baju anti peluru,” ungkap Rudiansyah, Ketua Kadin Prabumulih, yang selama ini konsisten mengawal pengembangan nanas sebagai bahan industri.

Di balik semua potensi ekonomi, nanas bagi orang Prabumulih adalah identitas. Ia hadir di meja makan keluarga, di pasar-pasar rakyat, di pinggir jalan tempat pedagang menggantungkan hidupnya. Ia hadir dalam kenangan masa kecil, ketika anak-anak menggigit nanas segar yang baru dipetik dari kebun.

Kini, buah yang disebut sebagian orang sebagai “buah surga” itu resmi mendapat tempat dalam peta identitas bangsa. Bukan lagi omon-omon, melainkan kenyataan yang bisa dirasakan masyarakat hingga generasi mendatang.

Hari ini adalah titik terang. Prabumulih bukan hanya penghasil nanas, melainkan Kota Nanas dengan identitas hukum, nilai ekonomi, dan potensi industri yang mendunia. Dari ambung bibik ibung hingga serat tekstil kelas dunia, nanas telah menjelma menjadi simbol perjuangan, kreativitas, dan harapan masyarakat Prabumulih.

“Capek memang, tapi dengan pencapaian ini, rasanya sangat worth it. Amazing tim,” tutup Rudiansyah, penuh semangat.

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait