MUARA ENIM, INFOMEDIAKOTA.COM –
Pembangunan Tol di wilayah Kecamatan Rambang Kabupaten Muara Enim Sumatera Selatan masih menjadi Sorotan dan perbincangan di masyarakat sekitar, dampak sosial dan lingkungan yang timbul dari akses jalan yang dituding rusak karena kegiatan, hingga tenaga kerja lokal yang di belum banyak diakomodir perusahaan hingga koordinasi ke pemerintah setempat diduga belum di laklukan oleh subkon perusahaan dianggap masih menjadi masalah,
Meski dari Pengerjaan mega proyek Tol dikerjakan oleh perusahaan Plat Merah yang notaben milik Pemerintah namun pelaksanaan di lapangan banyak terjadi keluhan. PT. Hutama Karya (Persero) dan berkolaborasi dengan BUMN Waskita Karya (Persero) Tbk, dan HKI sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan melibatkan 7 kementrian di dalam pelaksanaan pengerjaan mega proyek ini terus di genjot walau faktor cuaca musim hujan cukup menghambat progres yang sedang di jalani.
tujuh kementrian yang terlibat dalam mensukseskan percepatan peogres yaitu
• Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
• Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Republik Indonesia
• Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia
• Kementerian Perhubungan Republik Indonesia
• Kementerian Agraria dan Tata Ruang Republik Indonesia
• Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia
• dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia
Adapun tujuan dari pemerintah pusat membangun ruas TOL sumatra ini adalah lebih kepada meningkatkan geliat perekonomian masyarakat sumatra selatan pada khususnya. Dan juga dengan rampungnya jalan tol ini dapat membuat konektivitas Pulau Sumatra lebih holistik (tersambung secara keseluruhan).
Seperti diketahui, jalan tol Indralaya—Prabumulih merupakan hasil perluasan ruas Palembang—Indralaya. Selain itu, jalan tol sepanjang 65 kilometer tersebut merupakan koridor pendukung dari ruas JTTS utama, yakni ruas Sp. Indralaya—Muara Enim sepanjang 119 kilometer.
Jalan tol Indralaya—Prabumulih ditargetkan rampung pada 2022, sedangkan jalan tol Prabumulih—Muara Enim pada 2023. Kedua ruas tersebut ditaksir menelan investasi hingga Rp24,11 triliun dengan biaya konstruksi sekitar Rp15,68 triliun.
Dalam pelaksanaannya, pekerjaan jalan tol ini menggunakan tiga macam teknologi konstruksi mengikuti kontur lahan, yakni tiang pancang, timbunan biasa, dan PVD Free Loading.
Dalam pekerjaannya PT. Waskita Karya selaku mainKon oleh pemerintah menggarap jalan TOL Prabumulih-muara Enim. PT. Waskita juga melibatkan beberapa Perusahaan sub kontraktor pekerjaan penggalian, pengerukan, penimbunan, perataan dan pemadatan tanah. lsebagai Perusahaan lokal sumatra selatan.
Sebagai perusahaan Sub kontrak dari Waskita Karya, perusahaan tersebut banyak mengalami kendala di lapangan, seperti yang baru-baru ini mendapat sorotan dari berbagai kalangan masyarakat, yakni perihal penggunaan akses jalan desa, jalan penghubung dari Desa Sukarami dan Desa Air Keruh kecamatan Rambang Kabupaten Muara Enim dan Tahapan Koordinasi yang belum di lakukan
Saat portal ini mengecek ke lokasi jalan yang disebut-sebut rusak parah itu, terlihat personil PT. Waskita Karya (Persero) tengah melanjutkan perbaikan jalan akses desa yang teramat vital bagi warga sekitar, karena hanya ini jalan satu-satunya yang layak dimanfaatkan oleh warga sebagai jalan transportasi penghubung dua desa.
Menurut Camat Kecamatan Rambang Kabupaten Muara Enim, Herry Mulyawan, SP., MM. Jalan milik PT. Pertamina ini sebenarnya sudah akan dibangun dalam waktu dekat ini. Sekaligus menanggapi perihal ada perusahaan yang sedang melakukan pekerjaan jalan TOL di wilayahnya.
“Untuk status kepemilikan jalan yang dimaksud adalah milik Pertamina, ada 2 asset yang memiliki jalan tersebut, yakni Field Prabumulih, dan Field Limau. Kita selaku pemerintah sudah ada komunikasi dengan pihak Pertamina, bahwa tahun ini rencananya jalan tersebut akan di cor. Dan hal tersebut sudah menjadi sebuah komitmen, bahkan sudah pula disampaikan dalam rapat banggar di DPRD Muara Enim. Memang benar itu jalan milik Pertamina, namun perlu diketahui bahwa jalan itu adalah jalan akses utama masyarakat sekitar,”
“Untuk pekerjaan jalan TOL Prabumulih-Muara Enim sepenuhnya dipegang oleh PT. Waskita Karya, dan untuk hal koordinasi dan lain sebagainya dengan pemerintah kabupaten Muara Enim, Waskita sudah melaksanakan itu, termasuk juga dengan pemerintah Kota Prabumulih, untuk jalur koordinasi bahwa mereka mendapatkan tugas dari Negara melalui HK untuk pekerjaan ini,” jelas Herry
Selanjutnya Camat juga menjelaskan kalau di wilayah Rambang ini termasuk Zona yang agak panjang dari 7 Zona yang ada.
“Berhubung Rambang ini adalah wilayah yang termasuk agak panjang dalam pekerjaan ini, maka dibagi menjadi 3 Zona, yakni Zona 1, 2, dan Zona 3. Kebetulan juga wilaayah kecamatan Rambang ini diutus untuk perintis pertama, jadi mulai dari prosesi inventarisasi dan lain sebagainya dimulai dari wilayah Kecamatan Rambang ini,” lanjutnya lagi.
Saat ditanya tentang kewajiban perusahan Subkon yang bekerja di wilayah Rambang, beliau mengatakan bahwa sepenuhnya kewajiban tersebut ada ditangan PT. Waskita Karya untuk dapat menegur dan mengarahkan perusahaan Sub kontrak di bawahnya.
“Jadi perihal tanggung jawab pihak Subkon terhadap jalan akses desa tersebut itu wewenang dari pihak Waskita, untuk menegur atau memberi arahan, bukan wewenang kami sebagai pemerintah, jika ditanyakan apakah pihak Subkon sudah ada koordinasi dan komunikasi terhadap kami, maka kami katakan belum ada, namun ini bukan sebuah aturan, mereka (perusahaan subkon) tidak berkoordinasi kepada kami juga tidak masalah, dan jika berkoordinasi itu lebih baik dari segi etika nya, bukan dari segi aturan,”
“Kami ulangi lagi secara prosedural, bahwa perihal jalan tersebut, yang kami undang adalah pihak Pertamina, dan kami sampaikan teguran kepada pihak Pertamina tentang jalan yang rusak tersebut. Karena ini adalah jalan akses utama bagi warga 3 desa, Air Keruh, Sukarami, dan Tanjung Dalam. Lalu pertamina menyampaikan bahwa mereka tidak tahu kesepakatannya seperti apa dengan PT. Waskita,” jelas Camat 2 periode ini.
Asril, salah satu masyarakat setempat mengatakan ‘memang benar sejak tahun 2018 jalan ini sudah agak berlobang, dan dikarnakan jalan ini dilalui oleh Pipa pertamina, kamipun mengajukan permohonan ke PT Pertamina di tahun 2019 lalu agar bisa memperbaiki akses jalan kami namun sampai saat ini belum ada tanggapan dari pihak pertamina.
” Perlu diketahui bahwa masuknya perusahaan Waskita karya ke daerah ini, Alhamdulilah mengurangi angka pengangguran di desa kami sukarami ini,
dan saat ini tercatat 6 orang warga lokal yang sudah direkrut pihak Waskita, “ujarnya
Ditambahkan Asril, “Dengan hadirnya alat berat yang sedang bekerja memperbaiki jalan ini, itu adalah bukti bahwa pihak perusahaan tidak tinggal diam menanggapi beberapa keluhan warga, ucap asril.
Andre Superitenden PT Waskita Karya zona 1 menyampaikan bahwa komitmen waskita dalam hal ini, perbaikan jalan warga sebagai akses yang di gunakan untuk aktivitas kegitan pengerjaan proyek ToL akan pasti akan di lakukan, seperti di Desa air keruh – Sukarami sudah di lakukan untuk kesekian kalinya meski pun jalan tersebut belum tertalu sering dilalui dan jalan tersebut merupakan akses Pertamina juga
” Waskita telah berkomitmen untuk memperbaiki akses jalan warga yang digunakan untuk kegiatan aktivitas TOL zona 1 begitu pula jalan rusak di Desa Air keruh – Sikarami yang sekarang sudah beberapa kali kita perbaiki walaupun sebanarnya jalan ini sebelumnya sudah rusak, dan lagi jalan ini merupakan jalan Pertamina,” Pungkasnya










