Harapan Pasien, Kepala Daerah dan DPRD untuk Mengembangkan Pelayanan Hemodialisa di Kota Prabumulih

Dr dr Zulkhair Ali Sp.PD, KGH, FINASIM Ketua Pernefri (Perkumpulan Nefrologi Indonesia) Sumbagsel saat mengunjungi RSUD

INFOMEDIAKOTA PRABUMULIH — RSUD Kota Prabumulih terus berupaya dalam meningkatkan pelayanan terbaik bagi masyarakat, baik dari sisi teknis maupun SDM (Sumber Daya Manusia) yang ada. Salah satunya kepada pasien cuci darah yang harus ke di rujuk ke Palembang terus meningkat, oleh kerena itu Pemerintah Kota Prabumulih bersama DPRD melakukan penambahan pembangunan ruang Hemodialisa yang telah selesai di kerjakan pada akhir Desember 2023.

Seperti  kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 3 oktober yang lalu, Dr dr Zulkhair Ali Sp.PD, KGH, FINASIM Ketua Pernefri (Perkumpulan Nefrologi Indonesia Sumbagsel yang melakukan Visitasi dan audensi dengan Pasien HD,  hal ini merupakan salah satu proses penilaian kelayakan berdirinya hemodialisa serta pengembangan kedepannya termasuk pembangunan gedung baru harus disiapkan SDM saat dibuka dan beroperasi.

Bacaan Lainnya

Sebelumnya drg Sri Widiastuti Direktur RSUD mengucapkan terimakasih atas silaturahmi dan kunjungan ormas Lakri kemarin yang telah menyoroti terkait pembangunan gedung baru penambahan ruang Hemodialisa pelayanan untuk pasien gagal ginjal akut dan cuci darah yang belum berfungsi secara maksimal.

Direktur RSUD saat menerima silaturahmi Ketua dan Sekjen Lakri kota Prabumulih

“Kami mengucapkan terimakasih atas kunjungan dan silaturahmi kawan kawan Lakri yang telah memberikan perhatian terkait Penambahan pembangunan gedung baru Hemodialisa, gedung tersebut belum bisa difungsikan secara maksimal karena terkendala oleh SDM kekurangan tenaga perawat yang belum bersertifikat hal ini sesuai dengan ketentuan dan persyaratan dari BPJS yang harus di penuhi oleh RSUD kota Prabumulih,” tuturnya saat dibincangi awak media di ruang kerjanya, Selasa 15 Oktober 2024.

Ditempat yang sama Widiastuty S.ST Kepala Ruangan Hemodialisis RSUD kota Prabumulih menerangkan sesuai ketentuan aturan kalim BPJS yang cukup ketat untuk 4 mesin cuci darah harus di tangani oleh Perawat yang telah memiliki 3 sertifikat, maka dari itu saat ini belum ada penambahan alat mesin cuci darah dari vendor, sementara tenaga perawat yang harus mendapatkan sertifikat harus mengikuti pelatihan secara tatap muka selama 6 bulan,

“Saat ini 12 mesin hemodialisa yang ada di RSUD kota Prabumulih hanya beroperasi sebanyak 10 mesin sementara 2 mesin stanby untuk membackup apabila mesin yang telah beroperasi akan dilakukan perawatan maintenance, untuk 1 alat mesin cuci darah dapat menangani 2 pasien dalam satu hari yang mana 1 pasien cuci darah waktu penanganan selama 5 jam pagi dan sore hari, ” terangnya.

Baca juga  Tingkatkan Kewaspadaan, PLN ULP Kayu Agung Sosialisasikan Bahaya Listrik

Saat ini pihaknya tengah mempersiapkan para perawatnya dengan mengikuti pelatihan-pelatihan dialisis dan Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) yang bilamana nanti saat gedung tersebut difungsikan semua sudah siap untuk melayani pasien, Widiastuty juga menerangkan bahwa tahun ini ada dua kali pelatihan, tidak seperti tahun-tahun lalu yang hanya satu kali pelatihan dan pesertanya juga variatif kadang satu kadang dua orang yang diberangkatkan per-tahunnya.

“Alhamdulillah untuk tahun ini ada dua orang dan dua kali pelatihan dalam setahun. Kemarin kami berangkat di bulan Februari dan selesai bulan Juni, (Empat bulan, red). Setelah itu di bulan Agustus pun ada lagi pelatihan,” ungkap Widiastuty.

Dia juga menambahkan bahwa RSUD Prabumulih setiap tahunnya berproses, untuk terus mengirimkan perawatnya mengikuti pelatihan tersebut, karena memang kuota setiap tahunnya tidak banyak, juga semua rumah sakit di luar sana pun menginginkan perawatnya untuk ikut pelatihan.

Menurutnya, saat ini di RSUD Kota Prabumulih sudah ada 11 perawat hemodialisa dengan 8 perawat yang mengantongi sertifikat keahlian di bidang Dialisis. Masih ada tiga perawat lagi yang rencananya pada bulan Januari ini akan diberangkatkan mengikuti pelatihan di Rumah Sakit Muhammad Husein (RSMH) Palembang.

Lebih lanjut Widiastuty menyampaikan saat ini telah berkordinasi untuk ruangan baru HD jika akan ditambah 4 mesin berarti harus ada 3 sertifikat sesuai dengan ketentuan peraturan yang dipersyaratkan untuk perawat. Disisi lain dari 11 perawat yang bekerja di Ruangan unit Hemodialisa baru 8 perawat yang memiliki sertifikat.

“Maaf sebelumnya kita ketahui untuk pasien cuci darah yang seumur hidup ketergantungan dengan alat ini, tentunya terkait pelayanan dari sisi SDM untuk tenga keperawatan yang layak di HD karena itu disebut perawat pilihan dan yang wajib memiliki sertifikat, untuk melayani bukan hanya dari sisi teknis pengoperasian mesin saja tetapi dari attitude, komunikasi yang baik kepada pasien, ” ujarnya.

Lebih lanjut Widia menjelaskan perihal kendala antrian daftar tunggu atau waiting list saat ini untuk 10 mesin yang di operasikan hanya untuk 60 orang pasien jika satu mesin dua orang pasien melakukan dua kali dalam semingu cuci darah artinya perdua hari sudah untuk pasien yang rutin sudah terjadwal.

Baca juga  Penegakan Perda di Prabumulih Terkesan Tebang Pilih, KJPB Sayangkan Aksi Pembongkaran Bagunan Taman Bonsai

“Maaf kata sebelumnya kita baru bisa masukan antrian pasien jika ada pasien yang meninggal atau pindah. Jadi kendala ini bukan di RS kita saja bahkan di Lahat sampai 100 pasien waiting list dan mau kesini tapi kita sudah full, kita tidak mungkin menyingkirkan pasien kita yang sudah rutin terjadwal disni, kita masih keterbatasan mesin dan tenaga perawat yang memiliki sertifikat kompetensi,” jelasnya.

Karena kondisi keterbatasan mesin yang diakibatkan oleh harus memiliki sertifikat seperti ketentuan dari BPJS tersebut, maka terkadang pasien baru yang ingin melakukan cuci darah pun terpaksa diarahkan ke RSMH Palembang atau rumah sakit Ar Royan Indralaya bukan karena belum dimanfaatkannya gedung yang baru dibangun tersebut.

Salah satu pasien cuci darah yang paling lama menjalani perawatan di RSUD Alfa Agustinus, saat kami temui di ruang perawatan menjelaskan kalau dirinya sangat berterima kasih atas upaya semua perawat yang terus memberikan semangat kepadanya untuk terus dapat bertahan hidup dengan kondisi yang ada.

“Bagi kami perawat disini bukan cuma sebagai tenaga paramedis tetapi juga sebagai motivator. Mereka sering melakukan kegiatan-kegiatan buat para pasien sehingga kami juga merasa termotivasi untuk terus bertahan. Untuk itu kami ucapkan terima kasih,” ungkap Alfa dengan senyum kecil tersirat di wajah lelahnya.

Alfa juga menambahkan memang ada kendala yang dirasakan pasien saat ini yakni keterbatasan mesin dan perawat yang memang punya kompetensi untuk mengoperasikan mesin Dialiser ini.

“Itulah sebabnya kadang terjadi waiting list karena peraturan dari BPJS yang mengharuskan perawat yang memegang mesin itu harus melalui pelatihan. Sementara pelatihan tersebut tidak setiap tahun dilakukan,” katanya lagi sembari kembali mengucapkan terima kasih kepada segenap perawat yang telah dengan sabar memberikan yang terbaik buatnya dan teman-teman lain yang tengah menjalani perawatan cuci darah.

Terlihat beberapa pasien yang tengah ditangani oleh para perawat dengan senyum ramah dan sikap sabar yang luar biasa saat kami menyambangi ruang hemodialisa siang ini.

Benar adanya pepatah mengatakan bahwa Sehat itu mahal, tapi lebih mahal lagi jika kita mengalami sakit, karena semua aktivitas kita dapat tertunda bahkan terhenti. Semoga mereka yang tengah dirawat saat ini, diberikan kesehatan oleh Allah yang maha memberikan kesembuhan dari segala penyakit yang diturunkan-Nya, Aamiin.

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *