INFOMEDIAKOTA PALEMBANG — Sehari menjelang pelantikan Paguyuban Masyarakat Palembang Bersatu (PMPB) Sumatera Selatan, kabar membanggakan datang dari salah satu penasehatnya. Dr. Hendra Sudrajat, SH, MH atau akrab disapa Dr. Hendrajat menerima NU Kalidoni Awards 2026, penghargaan prestisius dari Nahdlatul Ulama.
Penghargaan tersebut diberikan dalam rangkaian kegiatan Lailatul Ijtima peringatan satu abad NU kalender masehi, yang digelar di Masjid Nurul Huda Margoyoso, Kecamatan Kalidoni, Kamis malam (12/2/2026).
Suasana religius sekaligus khidmat menyelimuti malam penganugerahan. Ratusan jamaah memadati masjid, menyaksikan prosesi penghormatan kepada tokoh-tokoh yang dinilai berjasa bagi perjalanan NU di tingkat kecamatan hingga kota.
Hadir langsung dalam acara tersebut jajaran pimpinan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Palembang, di antaranya Rois PCNU Dr. KH. Rosidin Hasan, M.Pd.I, Ketua PCNU Dr. Abdul Malik Syafei, MH, serta Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kalidoni (MWC NU Kalidoni) Muhammad Setiawan, MH.
Nama Dr. Hendrajat menjadi sorotan tersendiri. Dari 12 tokoh yang menerima penghargaan, ia satu-satunya figur akademisi di luar para perintis, rois, dan ketua MWC lintas periode.
Ia dinilai memiliki kontribusi strategis sebagai intelektual NU sekaligus penggagas Teori Konstitusi Nusantara, sebuah pemikiran hukum yang menempatkan adat, budaya, dan kearifan lokal sebagai fondasi etik dan normatif pembangunan hukum nasional.
“Beliau punya dedikasi nyata sebagai akademisi NU. Pemikirannya memberi warna dalam penguatan nilai Aswaja dan kebudayaan lokal. Itu alasan kami menilai beliau layak menerima penghargaan ini,” ujar Muhammad Setiawan dalam sambutannya.
Rekam jejak Dr. Hendrajat di dunia akademik memang tak singkat. Ia pernah mencatatkan diri sebagai peraih rekor doktor Hukum Tata Negara termuda di Indonesia dengan predikat cumlaude pada 2011, sekaligus aktif di berbagai advokasi hukum, penguatan budaya, dan gerakan keumatan.
Bagi Dr. Hendrajat, penghargaan ini bukan sekadar simbol prestise.
“Terima kasih kepada MWC NU Kalidoni atas amanah ini. Penghargaan ini menjadi motivasi untuk terus berdedikasi bagi gerakan keummatan di NU dan pengabdian kemasyarakatan di PMPB,” ujarnya.
Ia menegaskan, pengakuan tersebut sekaligus membuktikan bahwa gagasan Konstitusi Nusantara bukan sekadar wacana akademik, melainkan telah hidup dan berakar di tengah masyarakat.
Sebagai Penasehat PMPB Sumsel, ia berkomitmen mendorong rekognisi budaya lokal sebagai bagian dari identitas Islam Nusantara, selaras dengan visi organisasi untuk merawat tradisi dan memperkuat harmoni sosial berbasis kearifan lokal.
Penghargaan itu pun ia persembahkan untuk kedua orang tuanya yang telah wafat, serta untuk NU dan PMPB.
Malam itu, NU Kalidoni Awards bukan hanya seremoni penghormatan, tetapi juga penegasan bahwa gagasan besar dapat lahir dari pengabdian sunyi. Dari mimbar masjid di Kalidoni, kiprah intelektual lokal kembali diakui—membuktikan bahwa kerja-kerja pemikiran, ketika berpihak pada umat, akan selalu menemukan jalannya.










