Tak Bisa Buat Sumur Bor Karena Jalur Migas, Warga 4 Desa Prabumulih Minta PDAM Hadir Atasi Musim Kemarau

INFOMEDIAKOTA PRABUMULIH – Musim kemarau panjang mulai menunjukkan wajah lain di sejumlah wilayah Kota Prabumulih. Bukan sekadar panas dan debu, tetapi ancaman serius terhadap kebutuhan paling mendasar warga: air bersih.
Kondisi itu kini dirasakan masyarakat di empat desa, yakni Desa Kemang Tanduk, Sinar Rambang, Karya Mulya dan Tanjung Menang. Sumur-sumur galian warga mulai mengering, sementara sumber air alternatif semakin sulit didapat.

Di tengah kondisi tersebut, warga terpaksa mengandalkan distribusi bantuan air bersih dari BPBD Kota Prabumulih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bacaan Lainnya

Bantuan tersebut tentu sangat berarti. Namun bagi warga, persoalan air bersih tidak bisa terus diselesaikan dengan pola datang membawa tangki ketika sumur sudah kering.

Mereka menginginkan solusi yang lebih permanen, salah satunya dengan memperluas jaringan perpipaan PDAM hingga ke wilayah empat desa tersebut.

Sumur Kering, Sumur Bor Tak Jadi Pilihan
Kesulitan air bersih menjadi semakin pelik lantaran wilayah empat desa tersebut berada di kawasan yang masuk dalam wilayah kerja migas.

Baca juga  Proyek Normalisasi Sungai Kelekar Pelaksana PT.Wahyu Matra Kontraktor Di Kelurahan Cambai Di Duga Melawan Hukum

Menurut warga, pembuatan sumur bor menjadi persoalan tersendiri karena adanya kekhawatiran terhadap aspek keselamatan, mengingat kawasan tersebut disebut memiliki kandungan minyak dan gas bumi.

Situasi ini membuat pilihan warga semakin terbatas. Sumur galian mengering, sementara membuat sumur bor bukan pilihan yang mudah.

Di sinilah pemerintah dituntut tidak sekadar hadir ketika persoalan sudah menjadi krisis, tetapi mulai membangun solusi jangka panjang.
Sebab, air bersih bukan kebutuhan musiman. Ketika kemarau datang, kebutuhan itu justru semakin mendesak.

Warga Minta PDAM Jadi Solusi Permanen

Indra, salah seorang warga Desa Kemang Tanduk, berharap Pemerintah Kota Prabumulih memberikan perhatian serius terhadap persoalan tersebut.

Ia secara khusus meminta kepada Wali Kota Prabumulih H. Arlan agar jaringan pipa PDAM dapat diperluas hingga masuk ke desa mereka.

“Kepada Bapak Wali Kota Haji Arlan, kami meminta agar pipa PDAM dapat masuk ke desa kami sehingga kebutuhan air bersih tidak lagi jadi permasalahan di desa kami dalam mengahadapi musim kemarau,” harap Indra. (3/9/26)

Baca juga  Kereta Api Babaranjang Berhenti Lebih dari 30 Menit di Perlintasan, Warga Keluhkan Arus Lalu Lintas Prabumulih-Baturaja Tersendat

Menurutnya, kondisi sumur galian warga saat ini sudah mengalami kekeringan. Kondisi tersebut semakin sulit karena warga juga mempertimbangkan faktor keselamatan apabila harus membuat sumur bor.

“Kami cukup berterima kasih atas bantuan air bersih dari Pemerintah Kota Prabumulih. Akan tetapi, kami meminta agar pipa PDAM dapat hadir di desa kami,” pungkasnya.

Jangan Sampai Bantuan Tangki Menjadi Solusi Permanen

Persoalan yang dialami empat desa tersebut semestinya menjadi alarm bagi pemerintah daerah.

Distribusi air bersih menggunakan mobil tangki memang penting sebagai langkah darurat, tetapi tidak seharusnya menjadi jawaban permanen setiap kali kemarau datang.

Jika kondisi ini berulang setiap tahun, maka yang perlu dipikirkan bukan hanya berapa tangki air yang harus dikirim, tetapi bagaimana memastikan jaringan air bersih bisa menjangkau rumah-rumah warga secara berkelanjutan.

Apalagi, masyarakat di wilayah yang disebut memiliki aktivitas dan potensi migas justru menghadapi keterbatasan dalam mencari sumber air melalui sumur bor. Kondisi tersebut membutuhkan perhatian dan perencanaan lebih serius dari pemerintah.

Empat desa itu kini tidak sedang meminta kemewahan. Mereka hanya meminta satu hal yang sangat mendasar: air bersih yang mengalir sampai ke rumah.

Print Friendly, PDF & Email

Pos terkait