INFOMEDIAKOTA PRABUMULIH – Yayasan Intan Maharani (YIM) kembali menunjukkan komitmennya dalam upaya pencegahan HIV/AIDS di Kota Prabumulih. Melalui program keempat yang menyasar kelompok pekerja seks perempuan, YIM menggandeng lintas sektor, mulai dari Dinas Kesehatan, pemerintah kelurahan, hingga aktivis sosial, dalam forum kolaboratif yang digelar di Fave Hotel Prabumulih.
Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi para pemangku kepentingan untuk membahas isu-isu terkini serta mengidentifikasi potensi penularan HIV di tingkat lokal. Koordinator Lapangan YIM Prabumulih, Desi Ariyanti, didampingi Tim Wina, Sugiarti, Masita, dan Sinta Marini, mengatakan bahwa kegiatan semacam ini penting untuk memperkuat jejaring antarinstansi dan mempercepat penanganan kasus.
“Kami ingin memastikan isu HIV tetap menjadi perhatian bersama. Kolaborasi lintas sektor ini bukan hanya soal data, tapi eliminasi epidemi AIDS di Indonesia tahun 2030 dan meningkatkan persentase Perempuan Pekerja Seks yang telah menerima Tes HIV selama periode pelaporan dan mengetahui statusnya.” Ujar Desi dalam CASE CONFERENCE AT DISTRIC LEVEL
Hadir dalam kegiatan tersebut Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Prabumulih, Djoko Listyanto, SKM, M.Si, serta Lurah Tebing Tanah Putih, Edi Dahrul, SE., M.Si.
Djoko Tegaskan: Prabumulih Bukan Kota dengan Kasus HIV Tertinggi Kedua
Dalam sambutannya, Djoko Listyanto memberikan apresiasi terhadap langkah YIM yang terus konsisten menekan laju penyebaran HIV di daerah. Ia menegaskan, berdasarkan data resmi, Prabumulih tidak termasuk kota dengan jumlah kasus tertinggi kedua setelah Palembang, seperti yang kerap disalahpahami publik.
“Secara administrasi memang tampak tinggi, tapi hal itu karena sebagian besar pasien dari luar daerah berobat di fasilitas kesehatan Prabumulih. Hanya delapan orang yang benar-benar berdomisili di sini,” jelas Djoko.
Dari total pasien yang tercatat, lanjutnya, 17 orang lainnya berasal dari luar Prabumulih namun memilih berobat di kota ini karena akses layanan yang lebih memadai.
“Jadi, kalau dikatakan tertinggi, itu dalam konteks pelayanan kesehatan. Artinya, Prabumulih menjadi rujukan bagi pasien dari berbagai wilayah,” imbuhnya.
Fokus pada Edukasi Remaja dan Pengawasan Lokalisasi
Pemerintah Kota Prabumulih, kata Djoko, juga terus memperluas upaya edukasi ke sekolah-sekolah dalam rangka meningkatkan kesadaran remaja tentang bahaya HIV serta pentingnya menjaga perilaku hidup sehat.
“Kami turun langsung ke sekolah-sekolah untuk memberikan edukasi. Ini langkah preventif agar remaja tidak terjerumus ke perilaku berisiko,” ujarnya.
Selain itu, kawasan Kelurahan Tebing Tanah Putih yang dulunya dikenal sebagai titik lokalisasi kini menjadi fokus pengawasan pemerintah. Pemkot memastikan setiap aktivitas keluar-masuk kawasan tersebut dipantau, sekaligus memastikan warga yang terinfeksi HIV mendapatkan pendampingan dan pengobatan yang layak.
“Alhamdulillah, di Tanah Putih sudah kita awasi secara maksimal. Pendekatan kekeluargaan tetap kami utamakan agar mereka bisa mempertahankan kesehatannya dan tetap produktif,” tambahnya.
Kasus LSL Jadi Perhatian Baru
Dari temuan lapangan, sejumlah kasus penularan HIV di Prabumulih ternyata tidak berasal dari hubungan heteroseksual, melainkan dari relasi sesama jenis atau laki-laki seks dengan laki-laki (LSL). Fenomena ini kini menjadi perhatian serius lintas sektor karena cenderung tersembunyi dan sulit terdeteksi.
YIM bersama Dinas Kesehatan akan terus memperkuat pendekatan berbasis komunitas, termasuk penjangkauan dan pendampingan bagi kelompok berisiko tinggi.
Tentang YIM
Sebagai informasi, Yayasan Intan Maharani merupakan lembaga swadaya masyarakat yang berdiri sejak 30 Agustus 1994, dan diperbaharui melalui akta pada 2 Oktober 2015.
YIM berfokus pada rehabilitasi pecandu narkoba, pendampingan orang dengan HIV (ODHIV), pemberdayaan anak putus sekolah, serta komunitas berisiko TB, IMS, dan HIV, termasuk warga binaan lapas.
Melalui forum intersektor ini, seluruh pihak sepakat bahwa pencegahan HIV tidak bisa dikerjakan sendirian. Butuh kolaborasi nyata, kejujuran data, dan keberanian membuka ruang dialog lintas komunitas agar upaya penanggulangan berjalan efektif.
“Data yang ada di RCAD, layanan dan juga SIHA valid tidak ganda, Ini bukan hanya soal angka, tapi tentang bagaimana kita menjaga manusia tetap sehat dan berdaya, Harapannya kolaborasi lintas sektor bisa terwujud, sehingga isu HIV di Kota Prabumulih tiidak hanya menjadi tugasnya Dinas Kesehatan dan TIM saja, melainkan tanggung jawab bersama,” tutup Desi Arianty.










