INFOMEDIAKOTA Muara Enim, 24 September 2025 – Desa Baturaja, Kecamatan Empat Petulai Dangku, Kabupaten Muara Enim kembali diselimuti kecemasan dan kersahan. Limbah minyak mentah dari pipa Pertamina kembali mencemari kebun warga. Ironisnya, dalam bulan September saja, insiden serupa sudah tiga kali terjadi. Bukan kebetulan, kebocoran ini bahkan berulang di lokasi yang sama dengan kasus Januari 2025 lalu—tanda pertanda kelalaian serius yang nyaris dipelihara.
Afif, salah satu warga pemilik kebun, mengaku sudah lelah dengan janji-janji Pertamina. Getah karetnya jauh menurun sejak kebun digenangi minyak mentah pada bulan Januari yang lalu, sementara kompensasi yang dijanjikan Pertamina pun tak kunjung dibayarkan.
“Pihak Pertamina sempat berjanji membayar ganti rugi pada 20 September. Tapi sampai sekarang nihil. Kami sempat demo, dimediasi, dan dijanjikan lagi pada 30 September. Apa artinya slogan Ahlak kalau realisasi di lapangan hanya mengabaikan kami rakyat kecil?” tegas Afif geram.
Menurutnya kompensasi nilai ganti rugi juga tak sebanding dengan nilai kerugian jangka panjang dengan menurunnya hasil perkebunan, Peraturan Gubernur terkait nilai ganti rugi hanya jadi pepesan kosong tak pernah jadi acuan.
“Negosiasi harga ganti rugi tanam tumbuh seperti tawar menawar penjual cabe cung di pasar pak, terus apa gunanya aturan Pergub yang telah menjadi landasan kekuatan hukum yang harus di laksanakan, atau pergub hanya jadi pepesan kosong bagi perusahaan BUMN yang katanya profesional dalam menjalankan regulasi di negara ini,” ujarnya.
Tidak hanya Afif, setidaknya 11 warga pemilik kebun lainnya bernasib sama. Mereka dipaksa menanggung kerugian ekonomi akibat kebocoran berulang, sementara perusahaan plat merah ini seolah bermain-main dengan waktu dan nasib masyarakat.
Keritik tajam juga datang dari Aktivis lingkungan Sumsel, Candra Capung” Kawali” menilai ini bukan sekadar persoalan teknis, melainkan bukti lemahnya konsistensi Pertamina menjaga lingkungan. “Pertamina terlihat hanya sibuk mengejar produksi. Namun catatan hitam pencemaran terus berulang. Ini kelalaian sistemik. Kami menduga perhatian terhadap lingkungan tidak pernah jadi prioritas serius,” tegasnya.
Candra juga menuding minimnya pengawasan pemerintah daerah dan pusat memperparah situasi. “Sudah saatnya pihak terkait turun tangan. Jangan biarkan masyarakat terus jadi korban. Bumi Sumsel bukan tempat uji coba pipa bocor. Dampak ekologisnya panjang, pemulihannya pun tidak sebentar,” imbuhnya.
Selain itu Kawali melihat apa yang terjadi pada saat ini merupakan bentuk kejahatan lingkungan. Pertamina EP Adera Field harus bertanggung jawab terhadap rehabilitasi lingkungan. Berdasarkan peraturan Pemerintah nomor 22 tahun 2021 tentang penyelenggaraan perlindungan dan pengelolaan lingkungan Hidup.
“PT Pertamina EP Adera Field
Telah melanggar dengan mengabaikan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup. Dengan telah di langgar nya ketentuan tersebut maka dengan ini Kawali meminta agar Pertamina EP Adera Field melakukan perbaikan lingkungan,” tandasnya.
Kisah warga Baturaja adalah salah satu dari rentetan potret klasik yang tak kunjung usai, perusahaan besar bermain dengan slogan sementara rakyat kecil jadi korban . Pertamina boleh berdalih dengan seribu alasan teknis, namun fakta di lapangan berbicara lain, janji yang molor, kompensasi yang tak kunjung cair, dan kebun yang kehilangan produktivitas adalah bukti atas dugaan kelalaian ataukah kesengajaan.
Hingga berita ini diterbitkan Pertamina Hulu Rokan Zona 4 belum ada keterangan resmi terkait klarifikasi resmi kejadian insiden demi insiden tersbut. Sampai kapan publik harus menunggu keseriusan Pertamina? Atau memang benar, jargon Ahlak hanya sebatas kampanye di spanduk, tanpa ruh di lapangan?










