INFOMEDIAKOTA PRABUMULIH, 12 September 2025 – Luapan derasnya aliran Sungai Kelekar pada Kamis malam lalu seakan menguji kesabaran kontraktor dan warga Desa Pangkul. Mereka yang sebelumnya lega melihat tiang-tiang pancang jembatan baru berdiri kokoh, kini kembali harus pasrah setelah banjir besar menerjang area pembangunan.
Arus deras menyeret sejumlah material proyek. Meski begitu, warga tidak kehilangan semangat. Sebaliknya, mereka memilih tetap bersyukur atas upaya Pemerintah Kota Prabumulih yang membangun kembali jembatan penghubung nadi ekonomi itu.
Pembangunan jembatan Sungai Kelekar memang menjadi prioritas dikempimpinan Walikota H Arlan – Franky setelah jembatan lama ambruk pada April lalu dampak bencana serupa. Kala itu, derasnya luapan air dari hulu, tumpukan sampah, dan kondisi konstruksi yang menyempit membuat jembatan tak mampu menahan tekanan. Akibatnya, aktivitas warga Pangkul, Cambai, dan Karang Jaya nyaris lumpuh.
Sebuah harapan baru Kini tengah dikerjakan, jembatan sepanjang 20 meter dengan lebar 5 meter tengah dikerjakan dengan dukungan APBD 2025 senilai Rp1,8 miliar. Proyek yang digarap PT Paras Wida Cipta Wiguna itu diperkuat 20 tiang pancang berdiameter 600 mm sedalam 12 meter, dengan target rampung awal Oktober 2025.
Sebagai solusi sementara, kontraktor juga membangun jembatan darurat agar mobilitas warga tidak terhenti.
Pak Coy, warga Pangkul, menatap sungai yang meluap dengan nada pasrah bercampur harap.
“Kami sedih, karena jembatan ini sudah sangat dinanti. Tapi kami juga paham, ini musibah. Tidak ada yang bisa menolak banjir dan tidak bisa menyelamatkan material. Kami berterima kasih, kepada pemerintah kota dan pemborong, semoga pengerjaan bisa kembali dikebut dengan lancar dan aman” tuturnya
Bagi warga, jembatan ini bukan sekadar beton dan baja. Ia adalah penghubung ekonomi dan sosial. Hasil pertanian lebih mudah dipasarkan, anak-anak bisa bersekolah tanpa hambatan, dan interaksi antar-keluarga tak lagi terhalang derasnya arus sungai.
“Kalau sudah jadi, jembatan ini bakal meringankan hidup banyak orang. Makanya kami berharap jangan sampai terhenti,” tambah Pak Coy.
Meski material proyek sempat hanyut, warga Pangkul tidak menyalahkan pihak manapun. Mereka menilai banjir adalah bencana alam yang tak bisa diprediksi. Kontraktor pun disebut telah bekerja profesional dengan menyiapkan langkah darurat agar pekerjaan tetap berjalan.
Seorang tokoh masyarakat menegaskan, “Banjir ini memang menyakitkan, tapi jangan sampai semangat gotong royong hilang. Kami akan tetap mendukung, karena jembatan ini adalah harapan besar kami.”
Kerugian akibat banjir memang tak sedikit. Namun ibarat pepatah lama “malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih” seakan menjadi pengingat. Kontraktor maupun pemerintah kini dituntut untuk terus bersabar, profesional, dan konsisten menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas.
Jembatan Sungai Kelekar bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah simbol perubahan, harapan, sekaligus ketangguhan masyarakat Pangkul menghadapi ujian. Meski banjir meluap, semangat warga tetap mengalir deras, menanti hari ketika jembatan itu benar-benar berdiri megah, menghubungkan mereka dengan masa depan yang lebih baik.










