INFOMEDIAKOTA. MUARA ENIM Dua kampung di Desa Aur Duri Kecamatan Rambang Dangku Kabupaten Muara Enim, Sumsel terisolir. Sebanyak 200 Kepala Keluarga (KK) dengan 500 jiwa penduduk yang berada di dusun III dan IV hingga kini tak bisa menikmati terangnya lampu dari PLN, Senin (24/1/22).
Sejak pemekeran desa pada tahun 1999 sebagai desa persiapan selanjutnya menjadi desa definitif ditahun 2002. PLN masuk ke desa Air Duri pada Tahun 2004 silam, dengan hanya kampung satu dan dua saja yang bisa menikmati aliran listrik dari PLN, namun Kampung 3 dan 4 sampai saat ini belum juga merasakan hal tersebut.
Belum lagi jalan terjal hingga berlumpur menuju dua kampung tersebut membuat warga sering mengeluh dengan kondisi yang ada.
Asron, salah satu warga dusun IV desa Aur Duri yang sejak lahir pada tahun 1972 hingga kini belum merasakan aliran listrik dikampungnya.
“saya lahir tahun 1972, sejak lahir disini saya belum pernah merasakan terangnya listrik dari PLN” ucapnya kepada media ini saat dibincangi.
Untuk mendapatkan penerangan lampu dirumah mereka, warga setempat terpaksa menggunakan mesin Genset atau Diesel untuk selama beberapa jam saja.
“Kalau kami pakai mesin Diesel, setiap malam dinyalakan mulai jam 6 sampai jam 12 malam itu sudah paling lama” lanjut Asron seraya mengatakan setiap minggu menghabiskan bahan bakar solar 12 liter setiap minggunya jika diirit.
Beberapa rumah warga yang mampu bisa membeli mesin Genset dengan bahan bakar Pertalite atau pun Bensin, namun demikian jika tak mampu warga kampung III dan IV meminta sambungan listrik kepada tetangga
Lain lagi dengan keluarga Jemeldo Verli siswa sekolah dasar kelas enam ini merupakan keluarga tak mampu yang hanya bisa memanfaatkan kaleng bekas minuman untuk dijadikan lampu teplok dengan bahan bakar minyak tanah.
“Kadang susah belajar malam, kadang habis minyak” ucap bocah 13 tahun ini kepada wartawan sambil berharap didesanya ada lampu dan jalan menuju sekolah bisa diperbaiki.
Sementara itu, Kepala Desa (Kades) Aur Duri Muslim Jusroni ditemui dikantornya mengaku sangat prihatin dengan kondisi yang ada didesanya saat ini, wilayah penghasil minyak dan gas bumi itu masih ada yang tertinggal.
“Miris saya melihat warga saya, jika cukup dengan uang sekitar 20 juta mungkin saya bisa menyambung listrik kesana, tapi tidak semurah itu,” tutur Kades yang belum lama ini dilantik.
Pria yang dikenal pemberani itu tak segan melakukan aksi kepada pihak perusahan yang beroperasi diwilayahnya untuk membantu perbaikan jalan menuju kempung yang terisolir.
“Saya sering marah dengan perusahaan yang ada disini numpang lewat tapi tak mau perbaiki jalan” lanjut Muslim.
Bukan itu saja Muslim juga mengeluhkan seringnya listrik padam di wilayah kecamatan Rambang Niru ini,
“Sering mati lampu entah apa penyebabnya mungkin karena jaringan yang kotor sebaiknya di bersihkan serta di ganti dengan kabal yang berbungkus. Sangat ironi daerah yang kaya di kita ada PLTU sumsel 8, PT. GHEMMI, Tapi listrik terus Padam, sayang dengan daerah penghasil migas dan batu bara, lumbung energi tapi PLN mati trus
Untuk menuju kampung yang terisolir tim media ini harus menempuh perjalanan sepanjang 6 kilo meter dengan kondisi medan jalan yang terjal dan berlumpur.
Warga disana mengaku sejak dirinya lahir sekitar 50 tahun lebih tak bisa menikmati listrik dan berharap banyak kepada pemerintah Kabupaten Muara Enim, Sumsel untuk segera memberikan akses PLN dikampungnya (rill)










